Kompas.com - 30/06/2015, 18:28 WIB
|
EditorErvan Hardoko
BEIJING, KOMPAS.com — Sekitar sepertiga Tembok Besar China menghilang karena kondisi alam atau karena perusakan. Salah satu bentuk perusakan adalah pencurian batu-batu bata Tembok Besar untuk dijadikan bahan membangun rumah.

Kerusakan di Tembok Besar ini tak hanya terjadi di satu lokasi, tetapi juga muncul di beberapa bagian antara Shanhaiguan di pesisir timur ke Jiayuguan di tepi Gurun Gobi. Sebagian konstruksi bangunan hancur, sementara, di beberapa titik, tumbuhan memenuhi dinding sehingga mempercepat kehancuran. Demikian laporan harian The Beijing Times.

"Meski sejumlah bagian tembok terbuat dari bata dan batu, tembok ini tak mampu menahan gempuran hujan dan angin," kata Dong Yaohui, Wakil Presiden Masyarakat Tembok Besar China, kepada Beijing Times.

"Banyak menara yang semakin goyah dan kemungkinan akan ambruk saat hujan angin musim panas menerjang," tambah Yaohui.

Selain itu, kegiatan turis dan penduduk ikut andil dalam menambah kerusakan bangunan buatan manusia yang terpanjang di dunia itu. Warga desa di kawasan Lulong, provinsi Hebei, dulu selalu mengambil batu bata berwarna abu-abu dari Tembok Besar untuk digunakan membangun rumah mereka.

Sementara itu, sepotong batu bata dari Tembok Besar yang dilengkapi ukiran huruf China dijual dengan harga 30 yuan atau sekitar Rp 65.000 oleh warga setempat.

Sebenarnya, berdasarkan hukum di China, barang siapa yang mencuri bagian dari Tembok Besar dapat dikenai denda sebesar 5.000 yuan atau Rp 10,7 juta. Demikian dikabarkan harian milik pemerintah, Global Times.

"Sayangnya tak ada organisasi khusus untuk menegakkan aturan ini. Kerusakan hanya bisa dilaporkan ke pejabat yang lebih tinggi, dan sangat sulit memecahkan masalah tersebut saat hal itu terjadi di perbatasan provinsi," kata Jia Hailin, pejabat departemen perlindungan benda kuno di Hebei.

Pembangunan Tembok Besar China kali pertama dimulai pada tahun 3 SM. Daerah yang rusak itu, bagian dari tembok sepanjang hampir 6.300 kilometer yang dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Ming pada 1368-1644, termasuk tempat yang kini paling banyak dikunjungi turis.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.