Kompas.com - 29/06/2015, 23:25 WIB
EditorErvan Hardoko
PARIS, KOMPAS.com - Tersangka pemenggalan yang juga berupaya meledakkan sebuah perusahaan gas di Perancis, Senin (29/6/2015), membantah aksinya dilandasi alasan keagamaan.

Seorang sumber yang dekat dengan tim penyidik mengatakan Yassin Salhi (35), nama tersangka itu, mengatakan dia bukanlah seorang jihadis dan menegaskan aksinya dilakukan setelah dia bertengkar dengan istrinya sehari sebelum aksi itu.

Kepada penyidik, Yassin menambahkan dia juga bertengkar dengan atasannya beberapa hari sebelum dia beraksi. Dalam aksi itu, Yassin kemudian memenggal sang atasan dan menancapkan kepalanya di pagar perusahaan.

Kepala atasan Yassin yang sudah terpenggal itu ditancapkan di pagar perusahaan gas milik AS, Air Products, di samping bendera-bendera yang biasa digunakan kelompok militan Islam.

Yassin yang ditahan beberapa jam setelah melakukan aksinya itu menurut hukum Perancis bisa ditahan selama 96 jam sebelum didakwa atau dibebaskan.

Pemeriksaan terhadap salah satu telepon milik Yassin mengungkap pria ini bahkan sempat mengambil selfie dirinya sedang memegang kepala atasannya yang terpenggal. Dia kemudianmengirimkan foto itu ke seorang warga Perancis yang diketahui berada di Raqqa, Suriah, basis terkuat Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Serangan yang terjadi pada Jumat pekan lalu itu memicu kekhawatiran baru terkait keamanan Perancis kurang dari enam bulan setelah serangan terhadap majalah satir Charlie Hebdo dan sebuah toko Yahudi di Paris.

Perdana Menteri Perancis Manuel Valls mengatakan, ancaman terhadap Perancis, yang tergabung dalam koalisi anti-ISIS pimpinan AS, tak pernah sebesar ancaman saat ini. Sehingga, pemerintah harus meningkatkan keamanan di sejumlah lokasi yang dianggap sensitif.

Pemerintah Perancis mengatakan Yassin Salhi antara 2006 hingga 2008 masuk daftar pengawasan orang-orang yang berpotensi menjadi radikal. Namun, pria ini tak memiliki catatan kriminal dan tak pernah terlihat mempersiapkan sebuah serangan.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.