Kompas.com - 25/06/2015, 18:57 WIB
EditorErvan Hardoko
KARACHI, KOMPAS.com — Korban tewas akibat terjangan gelombang udara panas di Pakistan hingga Kamis (25/6/2015) sudah melebihi 1.000 orang.

Jumlah korban tewas diperkirakan masih akan bertambah meski awan mendung dan angin sedikit menurunkan suhu di kota Karachi, tempat yang paling menderita akibat bencana ini.

Kamar-kamar jenazah dan para penggali kubur di kota terbesar di Pakistan itu kerepotan menangani korban tewas yang terus bertambah sejak suhu ekstrem ini terjadi akhir pekan lalu.

"Jumlah korban tewas sudah melebihi 1.000 orang dan kemungkinan akan bertambah hingga 1.500 orang," kata Anwar Kazmi, juru bicara Yayasan Edhi, organisasi amal terbesar di Pakistan.

Berdasarkan data yang diperoleh AFP dari sejumlah rumah sakit di Karachi, jumlah korban tewas mencapai 1.079 orang. Sementara itu, berbagai rumah sakit di Karachi merawat setidaknya 80.000 orang korban gelombang panas.

Setelah beberapa hari suhu udara di Karachi mencapai lebih dari 40 derajat celsius, angin laut mulai bertiup dan awan mulai menutupi matahari sehingga membawa sedikit kesejukan di kota tersebut.

Sebagian besar korban tewas ini adalah mereka yang berusia lanjut, warga miskin, dan para pekerja kasar yang harus bekerja di tempat terbuka.

Selain itu, Asosiasi Dokter Pakistan (PMA) menyebut minimnya pemahaman warga tentang gejala seseorang yang terkena gelombang panas dan cara memberi pertolongan pertama berkontribusi atas tingginya jumlah korban.

Kesulitan warga Pakistan bertambah karena terjangan gelombang panas kali ini bertepatan saat umat Muslim menjalankan ibadah puasa.

Di tengah terjangan udara panas ini, umat Muslim Pakistan tetap berpuasa. Selain karena taat menjalankan perintah agama, undang-undang Pakistan juga melarang warga makan atau minum di tempat umum saat siang hari sepanjang bulan Ramadhan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.