Wanita Beijing Cekik Suaminya yang 15 Tahun Lumpuh hingga Tewas

Kompas.com - 22/06/2015, 21:27 WIB
Cui (63) berurai air mata saat menjelaskan kepada hakim alasan dia membunuh sang suami yang sudah 15 tahun lumpuh. ShanghaiistCui (63) berurai air mata saat menjelaskan kepada hakim alasan dia membunuh sang suami yang sudah 15 tahun lumpuh.
EditorErvan Hardoko
BEIJING, KOMPAS.com - Seorang perempuan asal Beijing berusia 63 tahun mencekik suaminya yang 15 tahun lumpuh hingga tewas. Setelah itu, perempuan tersebut mencoba bunuh diri.

Pekan lalu, perempuan itu akhirnya dijatuhi hukuman penjara tiga tahun dengan penangguhan hukuman mati selama tiga tahun setelah terbukti melakukan pembunuhan berencana.

Penangguhan hukuman mati selama tiga tahun dalam hukum China berarti seorang terpidana akan menjalani eksekusi mati jika dalam waktu yang ditetapkan itu si terpidana kembali melakukan kejahatan.

Jika dalam waktu yang ditentukan itu si terpidana tak melakukan kejahatan yang sama maka hukuman itu akan diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup.

Hakim tetap menjatuhkan hukuman itu meski pada sidang yang digelar pada Jumat (19/6/2015), ratusan tetangga perempuan itu membuat permohonan agar hakim tak menghukum perempuan itu.

Perempuan bernama Cui, sudah merawat suaminya sejak dia lumpuh pada 1999 akibat kelainan di tulang belakangnya. Cui bahkan harus berhenti bekerja dan hanya berjualan di tepi jalan untuk merawat suaminya itu.

Meski mendapat bantuan keuangan dari pemerintah desa, Cui sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membayar seorang perawat. Sementara bantuan dari kedua anaknya sangat sulit didapat karena keduanya hanya berpenghasilan 3.000 yuan atau sekitar Rp 6,4 juta sebulan.

Kondisi keuangan Cui makin parah setelah dia didiagnosa menderita penyakit yang sama pada 2013. Perempuan ini makin merasa tak berdaya karena harus berjuang merawat diri sendiri dan suaminya yang kondisinya makin buruk.

Putri Cui mengatakan ayahnya bahkan sudah tak mampu membuka mulut untuk mengunyah makanan. Sehingga Cui biasanya mengunyah dulu makanan untuk suaminya sebelum disuapkan.

Di tengah keputusasaan yang makin memuncak, Cui kemudian mencekik suaminya dengan menggunakan tali. Setelah suaminya tewas, Cui mengiris pergelangan tangan dan lehernya beberapa kali.

Namun, akibat ketakutan atas perbuatannya, Cui kemudian menelepon putrinya untuk meminta pertolongan.

"Saya sudah tak tahan. Saya tak ingin menjadi beban anak-anak. Saya mengalami masa-masa buruk. Saya seharusnya tak melakukan itu (membunuh suaminya)," kata Cui sambil berurai air mata di hadapan hakim.

Fakta bahwa Cui sudah cukup lama merawat suaminya dan latar belakangnya yang miskin menjadi pertimbangan hakim saat menjatuhkan vonis. Selain itu, seluruh anggota keluarga memaafkan perbuatan Cui karena mereka memahami situasi yang membuat perempuan itu nekat membunuh suaminya.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X