Kompas.com - 15/06/2015, 21:06 WIB
EditorErvan Hardoko
BEIJING, KOMPAS.com — Seorang mantan jutawan asal Hebei, China, yang mengadopsi 75 orang anak telantar kini terjerat utang hingga 2 juta yuan setelah dia divonis menderita kanker empat tahun lalu.

Li Li Juan asal kota Wu'an, Hebei, menjadi jutawan pada 1980-an setelah bisnis garmen yang dikelolanya mencapai kesuksesan. Selama 19 tahun terakhir, Li Li mengadopsi 75 orang anak telantar, sebagian besar adalah anak-anak penyandang disabilitas dan sakit yang ditinggalkan orangtua mereka.

Li Li juga mengadopsi anak-anak yang kehilangan orangtua akibat bencana pertambangan batu bara atau tragedi lainnya.

Pada masa-masa awal, Li Li masih mampu menggunakan keuntungan bisnisnya dari investasi tambang bijih besi dan tabungannya dari bisnis garmen untuk menghidupi anak-anak angkatnya itu.

Namun, pada 2008, tambang bijih besinya ditutup akibat terkena pembangunan yang sekaligus memangkas pendapatan utama perempuan itu. Li Li kemudian mulai menjual properti dan harta bendanya demi menghidupi anak-anak asuhnya itu.

Akibat banyaknya anak yang diasuh, tak mengherankan uang simpanan Li Li dengan cepat menyusut. Sejak 2011, biaya bulanan untuk mengasuh anak-anak itu sudah melebihi pemasukannya.

Meski masih mendapat bantuan dari kerabat, teman dan sejumlah lembaga amal, jumlah bantuan yang diterimanya tetap tak bisa menutup biaya yang terus membengkak. Akhirnya, utang Li Li mencapai sekitar 2 juta yuan atau sekitar Rp 4,3 miliar.

Hal yang paling menyedihkan adalah meski Li Li kini menjadi "ibu" untuk 75 orang anak, putra kandungnya Xiao Wen justru tak pernah menemuinya dalam 10 tahun terakhir.

Pada 2004, Xiao Wen menderita cedera saraf tulang belakang parah dan harus menjalani operasi. Namun, Li Li tak bisa mendampingi Xiao Wen karena pada saat yang sama dia berada di Shanghai untuk mendampingi salah satu anak asuhnya yang menjalani operasi hydrocephalus untuk kedua kalinya.

Saat Xiao Wen dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang dari rumah sakit, dia menjadi sangat depresi dan enggan menemui ibunya. Xiao Wen kemudian menjalani terapi untuk depresinya dan kini tinggal bersama sang nenek.

Li Jing Wen, seorang pejabat Wu'An, mengatakan, anak-anak yang diadopsi itu sejak awal seharusnya dirawat di Pusat Kesejahteraan Sosial. "Meski apa yang dilakukan Li Li Juan sangat mulia dan harus dihargai, tetap saja apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan hukum yang berlaku," ujar Li Jing Wen.

Saat ini, sambung Jing Wen, sesuai undang-undang ke-75, anak-anak itu tak lagi berstatus anak yatim piatu karena semua sudah didaftarkan di bawah nama Li Li Juan.

Karena itu, Li Li Juan harus menolak tawaran pihak lain yang ingin mengadopsi anak-anak itu. Sementara itu, di sisi lain, ruangan dan dana untuk mengurus anak-anak tersebut kian hari kian menipis.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.