Kompas.com - 08/06/2015, 12:28 WIB
EditorEgidius Patnistik
KOMPAS.com - Partai berkuasa Turki kehilangan mayoritas mutlak dalam pemilihan parlemen hari Minggu (7/5/2015). Ini merupakan kekalahan telak bagi upaya Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk mengubah konstitusi negara itu dengan membentuk sistem demokrasi presidensial yang akan memberinya lebih banyak kekuasaan.

Dengan 80 persen lebih suara dihitung, Partai Keadilan dan Pembangunan Islam (AKP) yang mendukung Erdogan, akan meraih kira-kira 41 persen suara, turun drastis dari hampir 50 persen yang diraih tahun 2011.

Perkiraan itu menunjukkan AKP memenangkan 267 kursi dalam parlemen yang beranggotakan 550 orang, di bawah batas minimum yang perlu untuk mempertahankan mayoritas.

Partai Rakyat Demokratik pro-Kurdi (HDP) melampaui 10 persen suara, serta membuka peluang untuk bergabung dalam parlemen pertama kalinya, dan kemungkinan akan meraih 74 kursi, sementara partai-partai lain meraih sisa suara.

Erdogan menyerukan pembentukan "Turki baru" dan pembentukan sistem demokrasi presidensial, seperti di Amerika Serikat. Sebaliknya, hasil pemilu ini bisa memaksanya membentuk pemerintahan koalisi untuk pertama kalinya sejak ia mengambil alih kekuasaan tahun 2002.

Pengamat mengatakan partai nasionalis MHP, yang diperkirakan meraih 85 kursi dalam parlemen baru, punya peluang terbesar untuk membentuk pemerintah bersama Erdogan.

Seorang pejabat partai mengatakan masih terlalu dini untuk mengetahui apakah hal tersebut akan terjadi. Pemilu ini secara efektif adalah referendum apakah akan memberi partai AKP kekuasaan mayoritas di parlemen, sehingga anggota parlemen AKP dapat mengubah konstitusi.

Namun, partai-partai oposisi berkampanye menentang perubahan tersebut. Perubahan konstitusi secara signifikan akan mengubah demokrasi Turki dan memperbesar kekuasaan Erdogan sehingga dia menjadi politisi paling kuat di negara itu.

Lebih dari 53 juta pemilih berhak memberikan suara mereka. Jika partai AKP memenangkan 330 kursi, partai itu bisa menyerukan referendum nasional untuk mengubah konstitusi, dan jika meraih 367 kursi, mereka bisa melakukan perubahan tanpa harus melewati sebuah referendum.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.