Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 28/05/2015, 16:14 WIB
EditorErvan Hardoko
NEW DELHI, KOMPAS.com - Berbagai rumah sakit di India, Kamis (28/5/2015), kewalahan menerima pasien korban gelombang udara panas yang selama sepekan terakhir sudah menewaskan 1.500 orang itu.

Setiap tahun ratusan orang, sebagian besar berasal dari kalangan masyarakat miskin, tewas di puncak musim panas di India. Namun, jumlah korban tewas tahun ini sudah terlalu besar.

Di negara bagian Andhra Pradesh, yang sejauh ini merupakan daerah yang paling parah terkena bencana ini, tercatat 1.020 orang tewas sejak 18 Mei lalu. Jumlah korban tewas di negara ini melonjak dua kali lipat dibanding peristiwa sama tahun lalu.

Sementara itu di negara bagian Telangana, di mana suhu udara mencapai 48 derajat Celcius sepanjang akhir pekan lalu, 340 orang meninggal dunia, jauh meningkat dibanding tahun lalu yang hanya 31 orang tewas.

"Terpaan gelombang panas tahun ini durasinya lebih pendek namun korbannya jauh lebih banyak," kata Arjuna Srnidhi, manajer program untuk perubahan iklim di Pusat Sains dan Lingkungan (CSE).

"Situasi ini bisa disebabkan perubahan temperatur setelah bulan Februari dan Maret yang sangat basah yang membuat udara saat itu sangat dingin," tambah Arjuna.

Rumah-rumah sakit di New Delhi, yang mengalami suhu udara hingga 45 derajat Celcius, kewalahan untuk menangani pasien yang terus bertambah.

Antrean panjang terlihat di luar Institur Ilmu Kedokteran India, salah satu rumah sakit pemerintah terbesar. Di sana terlihat para perempuan mengantre sambil memegang botol air minum dan jus mangga.

"Rumah sakit tak bisa menampung korban gelombang udara panas. Pasien mengeluhkan sakit kepala dan beberapa dari mereka sempat mengigau," kata Ajay Lekhi, presiden Asosiasi Dokter Delhi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.