Inilah 20 Kejahatan yang Bisa Berujung Hukuman Mati di Korea Utara

Kompas.com - 15/05/2015, 20:33 WIB
Kim Jong Un menunjuk Hyon Yong Chol (kanan) sebagai panglima angkatan bersenjata pada 2012 sebelum kemudian menjabat menteri pertahanan kurang dari satu tahun yang lalu. Namun, pada 2015, Hyon Yong Chol dihukum mati karena tertidur dalam sebuah acara resmi militer. AFP/GettyKim Jong Un menunjuk Hyon Yong Chol (kanan) sebagai panglima angkatan bersenjata pada 2012 sebelum kemudian menjabat menteri pertahanan kurang dari satu tahun yang lalu. Namun, pada 2015, Hyon Yong Chol dihukum mati karena tertidur dalam sebuah acara resmi militer.
EditorErvan Hardoko
SEOUL, KOMPAS.com - Masih segar dalam ingatan kabar pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menghukum mati Menteri Pertahanan Hyon Yong Chol dengan cara ditembak menggunakan senjata anti-serangan udara.

Kesalahan Yong Chol sebenarnya tidak berat, dia hanya tertidur dalam sebuah acara militer yang dihadiri Kim Jong Un. Rupanya, perilaku itu dianggap tak menghormati sang pemimpin sehingga perlu diganjar hukuman mati.

Ternyata, sedikitnya ada 20 jenis kejahatan yang di Korea Utara bisa diganjar hukuman mati. Sebagian dari apa yang disebut kejahatan itu mengada-ada dan biasanya terpidana tidak menjalani sidang pengadilan yang adil.

Apa saja jenis kejahatan itu? Menjual batu mulia di pasar gelap, mengganggu persiapan perang dan menyebarkan mata uang asing adalah beberapa jenis kejahatan yang dianggap sangat serius di Korea Utara.


Tak jarang, hukuman dijatuhkan tak hanya untuk si terpidana namun juga untuk semua kerabat atau orang yang berkaitan dengan terpidana. Bahkan jika terpidana dianggap "musuh negara" maka tiga generasi keluarganya bisa ikut diganjar hukuman.

Menurut catatan Federasi Internasional untuk HAM (FIDH), ribuan eksekusi sudah digelar di Korea Utara sejak 1950-an. Jumlah eksekusi mati terbesar muncul pada era 1990-an dan 2000-an.

FIDH yang membawahi 150 organisasi pemantau HAM di lima benua, membeberkan daftar kejahatan yang bisa dijatuhi hukuman mati di Korea Utara. Daftar ini diperoleh dari sejumlah kesaksian warga negeri itu yang lari ke luar negeri.

"Banyak tindak kriminal yang diganjar hukuman mati di Korea Utara, sangat mengada-ada. Tak perlu terlalu jelas perbuatan seseorang hingga dia bisa diganjar hukuman mati," kata Direktur FIDH urusan Asia, Michelle Kissenkoetter.

"Sistem hukum di Korea Utara tidak transparan. Saat seseorang didakwa melakukan kejahatan maka jarang sekali seorang terdakwa mendapatkan sidang yang adil," tambah Michelle.

Direktur Riset dan Strategi pada lembaga Liberty in North Korea, Sokeel Park mengatakan seringkali terjadi perbedaan besar antara undang-undang dan praktik hukum di Korea Utara.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Daily Mail
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mantan Penyelundup Narkoba Ini Pernah Nyaris Dibunuh karena Ganti Saluran TV

Mantan Penyelundup Narkoba Ini Pernah Nyaris Dibunuh karena Ganti Saluran TV

Internasional
Restoran di Belgia Ini Sajikan Air Minum Daur Ulang dari Toilet

Restoran di Belgia Ini Sajikan Air Minum Daur Ulang dari Toilet

Internasional
Bayi Ini Dikubur Hidup-hidup di Lempeng Beton, Polisi China Buru Orangtuanya

Bayi Ini Dikubur Hidup-hidup di Lempeng Beton, Polisi China Buru Orangtuanya

Internasional
Protes Pembatasan Pers, Koran Australia Kompak 'Rahasiakan' Halaman Depan

Protes Pembatasan Pers, Koran Australia Kompak "Rahasiakan" Halaman Depan

Internasional
Bar di Jepang Ini Hanya Izinkan Pengunjung untuk Datang Sendiri

Bar di Jepang Ini Hanya Izinkan Pengunjung untuk Datang Sendiri

Internasional
Menhan China: Tak Ada yang Bisa Mencegah Penyatuan Kembali China dengan Taiwan

Menhan China: Tak Ada yang Bisa Mencegah Penyatuan Kembali China dengan Taiwan

Internasional
Restoran Khusus Indomie Bakal Dibuka di Singapura

Restoran Khusus Indomie Bakal Dibuka di Singapura

Internasional
Pemimpin Hong Kong Kunjungi Masjid yang Disiram Meriam Air Polisi

Pemimpin Hong Kong Kunjungi Masjid yang Disiram Meriam Air Polisi

Internasional
Ribuan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Sepakat Pindah ke Pulau di Teluk Benggala

Ribuan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Sepakat Pindah ke Pulau di Teluk Benggala

Internasional
Bubarkan Demonstran, Polisi Hong Kong 'Tak Sengaja' Tembakkan Meriam Air ke Arah Masjid

Bubarkan Demonstran, Polisi Hong Kong "Tak Sengaja" Tembakkan Meriam Air ke Arah Masjid

Internasional
Patuhi Kesepakatan Gencatan Senjata, Pasukan Kurdi Suriah Tinggalkan 'Zona Aman'

Patuhi Kesepakatan Gencatan Senjata, Pasukan Kurdi Suriah Tinggalkan "Zona Aman"

Internasional
Mutiara Berusia 8.000 Tahun Bakal Dipamerkan Pertama Kali di Abu Dhabi

Mutiara Berusia 8.000 Tahun Bakal Dipamerkan Pertama Kali di Abu Dhabi

Internasional
Hadiri Pelantikan Jokowi, Ini Kerja Sama Bilateral yang Ingin Ditingkatkan PM Singapura

Hadiri Pelantikan Jokowi, Ini Kerja Sama Bilateral yang Ingin Ditingkatkan PM Singapura

Internasional
Berusaha Bunuh Pasukan SAS Inggris, ISIS Pasang Bom Bunuh Diri di Bra

Berusaha Bunuh Pasukan SAS Inggris, ISIS Pasang Bom Bunuh Diri di Bra

Internasional
Mahathir Tiba di Jakarta untuk Hadiri Pelantikan Jokowi-Ma'ruf Amin

Mahathir Tiba di Jakarta untuk Hadiri Pelantikan Jokowi-Ma'ruf Amin

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X