Kompas.com - 13/04/2015, 18:50 WIB
EditorFidel Ali Permana


KOMPAS.com
- Sebanyak 85 WNI di Aden, Yaman, pada Senin pagi ini (13/4/2015) akhirnya bisa naik kapal Nasr Allah yang dikirim dari Tim Indonesia di Djibouti. Proses menuju Djibouti sangat kompleks dan sulit akibat perang terus berkecamuk di Aden, Yaman.

Demi pertimbangan kemanusiaan, dan rasa solidaritas, kapal Indonesia juga mengangkut warga negara lain. Oleh karena Itu, kapal tidak hanya berisi WNI, namun juga menaikkan 67 warga Malaysia, 3 warga Thailand dan 8 Yaman.  Sebelum ini, 10 WNI juga menumpang kapal perang India keluar dari Aden.

Dubes Indonesia di Addis Ababa, Imam Santoso yang juga menjadi Ketua Tim Percepatan Evakuasi WNI di Djibouti menyatakan kelegaannya atas keberangkatan WNI dari Aden. "Semua tidak mudah dan berliku. Tapi akhirnya Tuhan membantu kita. Kini kita berharap mereka aman di tengah lautan," ujarnya dalam keterangan pers yang diterima, Senin (13/4/2015).

Menurut Imam, Tim Indonesia yang berada di Djibouti bekerja sama dengan tim di Yaman, Riyadh dan Jakarta terus mendorong repatriasi WNI yang telah terjebak perang di Aden.

"Warga kita sudah menunggu kisaran satu minggu sampai kedatangan kapal dari Djibouti. Bahkan kemarin mereka sempat menunggu satu hari full di pelabuhan Aden karena keterlambatan kedatangan kapal," kata Imam.

Saat ini, Tim di Djibouti tengah mempersiapkan akomodasi, transportasi dan keperluan konsuler yang dibutuhkan. Sesampainya di negeri ujung Afrika tersebut, mereka akan diinapkan di beberapa tempat Sebelum diterbangkan ke Indonesia. Diperkirakan kapal akan merapat di pelabuhan Djibouti pukul 20.00 waktu setempat (00.00 WIB).

"Di Djibouti saat ini sulit sekali mencari hotel karena banyaknya orang yang lari dari Yaman. Mungkin warga kita terpaksa diinapkan di tempat-tempat yang berbeda," ujar M Aji Surya dari Tim Kemlu Jakarta.

Khusus untuk warga selain Indonesia yang ada di kapal, Tim akan serahkan kepada perwakilan negara masing-masing di Djibouti untuk mengurusi. Tim dari Malaysia misalnya, telah mempersiapkan diri untuk menerima warganya.

Saat ini kota Djibouti sedang musim panas dengan rata-rata temperatur siang hari kisaran 40 derajat. Ibukota dengan penduduk berbahasa Prancis dan Arab ini layaknya kota kecil di Indonesia tahun 1960-an.

Yang unik dari Djibouti, sebagian masyarakatnya memiliki kebiasaan mengunyah daun khat (semacam ganja dengan kadar rendah) sehingga terlihat sangat bersahabat dan bersemangat dalam kehidupan hariannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.