Mahkamah Agung AS Tolak Sidangkan Kasus Dugaan Penyiksaan di Guantanamo

Kompas.com - 10/03/2015, 10:08 WIB
Penjara Guantanamo digunakan AS untuk menahan terduga terorisme BBCPenjara Guantanamo digunakan AS untuk menahan terduga terorisme
EditorErvan Hardoko
WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Mahkamah Agung AS, Senin (9/3/2015), menolak menyidangkan kasus dugaan penyiksaan tahanan di penjara Teluk Guantanamo, Kuba.
Selain itu, Mahkamah Agung juga melarang penyebaran foto-foto dan melarang seorang pria Suriah menuntut pemerintah AS terkait dugaan penyiksaan tersebut.

Dalam salah satu kasus, mantan tahanan asal Suriah Abdul Rahim Abdul Razak al Janko ingin menuntut pemerintah AS atas kerugian yang dideritanya selama menjadi tahanan di Guantanamo selama tujuh tahun sebelum dibebaskan pada 2009 di Belgia.

Dalam surat gugatannya, Janko mengatakan di telah melakukan 17 kali percobaan bunuh diri sebagai protes atas penahanannya. Dia menambahkan dirinya ditahan dalam sel isolasi dan menghabiskan sebagian besar waktunya sendirian, terputus dari dunia luar.

"Dia menjadi subyek teknik yang diyakini dirancang dan digunakan untuk mematahkan baik secara fisik maupun psikologi yag menyebabkan penderitaan hebat selama masa penahanannya," demikian isi gugatan Janko.

Surat gugatan itu juga memuat penderitaan akibat terlalu lama tinggal di sel isolasi, kurang tidur, pemukulan, ancaman terhadap anggota keluarga, penghinaan seksual terhadap keluarga perempuan, kurangnya penanganan medis dan psilogi serta pelecehan dan penghinaan yang berkelanjutan.

Pada Juli tahun lalu, Pengadilan Banding Distrik Columbia juga menolak menyidangkan gugatan itu dengan alasan tak memiliki otorita dalam kasus-kasus semacam ini.

Dalam kasus lain, Mahkamah Agung memenangkan CIA dalam kasus melawan sebuah organisasi HAM di Washington yang menginginkan akses untuk melihat foto-foto dan video seorang tahanan asal Arab Saudi, Mohammed al-Qahtani.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

The Center for Constotusional Rights, nama organisasi itu, mengklaim foto-foto dan video itu bisa menjadi bukti bahwa pemerintah AS menyiksa Al-Qahtani, salah seorang tersangka dalam serangan teror 11 September 2001.

Pada September tahun lalu, pada hakim pengadilan tinggi mengatakan foto-foto dan video milik CIA itu merupakan perkecualian dalam undang-undang kebebasan informasi.

Dalam putusannya, Mahkamah Agung memperkuat keputusan pengadilan tinggi dengan alasan foto-foto dan video milik CIA itu bisa membahayakan keamanan nasional karena dapat digunakan para ekstremis anti-Amerika sebagai alat propaganda untuk memicu kekerasan terhadap kepentingan AS baik di dalam maupun luar negeri.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.