Barat Sedang Coba Singkirkan Putin dan Hancurkan Ekonomi Rusia

Kompas.com - 21/01/2015, 18:21 WIB
Presiden Joko Widodo bertemu dengan Presiden Vladimir Putin bertemu di sela-sela KTT APEC di Beijing, Senin (10/11/2014). AFP PHOTO / POOL / MIKHAIL KLIMENTYEVPresiden Joko Widodo bertemu dengan Presiden Vladimir Putin bertemu di sela-sela KTT APEC di Beijing, Senin (10/11/2014).
EditorEgidius Patnistik
MOSKWA, KOMPAS.com — Negara-negara Barat tengah berupaya untuk memanfaatkan konflik Ukraina guna menggulingkan Presiden Vladimir Putin dan menghancurkan perekonomian Rusia. Juru Bicara Presiden Putin, Dmitry Peskov, mengatakan hal itu dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada Rabu (21/1/2015).

"Di Barat, mereka sedang mencoba untuk melengserkan Putin, mengisolasi dia dari politik internasional, mencekik Rusia secara ekonomi, menjatuhkan Putin," kata Peskov. "Kalau bukan karena Crimea, mereka akan memikirkan alasan lain," klaim Peskov dalam sebuah wawancara dengan mingguan Argumenty i Fakty.

Dia menegaskan bahwa situasi ekonomi Rusia berada di bawah kendali meskipun ada "sejumlah sanksi ilegal" terkait pencaplokan Rusia atas Crimea dan dukungan terhadap pemberontak separatis di Ukraina timur. Sejumlah sanksi itu bersamaan dengan turunnya harga minyak dunia telah menyebabkan nilai rubel terjungkal.

"Saya akan mengingatkan kalian tentang apa kata Putin (bulan Desember lalu), semuanya terkendali. Kami tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, dan kami punya segala sesuatu yang perlu kami lakukan."

Peskov mengatakan, Rusia tidak bisa menyelesaikan krisis di Ukraina sebagaimana tuntutan Barat. "Segala sesuatu yang Rusia bisa lakukan untuk mengakhiri konflik itu sudah dilakukan," kata Peskov. Dia merujuk pada bantuan kemanusian dan pasokan batubara serta listrik. Namun, Rusia tidak bisa menyelesaikan konflik di dalam Ukraina."

"Kiev perlu memulai pembicaraan dengan wilayah-wilayahnya sendiri. Jerman, Perancis, Rusia dan OSCE dapat bertindak sebagai penjamin bagi permukiman. Kami berharap kelompok Minsk akan melanjutkan pekerjaannya dan sebagai hasilnya akan ada alasan bagi pertemuan para pemimpin ..., yang rencananya akan digelar di Astana. Namun, pertemuan hanya akan terjadi jika hal tersebut dapat memberikan sejumlah hasil yang nyata," kata dia.

Peskov mengakui, meskipun ada euforia terkait aneksasi Crimea, Rusia dalam "keadaan cemas" karena ada "konfrontasi terbuka negara-negara Barat, sebuah (konfrontasi) ideologi, media, politik, dan diplomatik, tetapi bukan militer," kata Peskov.

Dia menambahkan, peristiwa di Ukraina "merobek topeng diplomasi internasional". Ia mengutip Kanselir Jerman Angela Merkel, yang mengatakan dalam sebuah wawancara pekan lalu bahwa Putin jangan berharap undangan ke pertemuan G-7 karena negara-negara di dalam kelompok itu memiliki nilai-nilai yang sama.

"Putin tidak mengharapkan hal itu," kata Peskov. "Saya yakin Barat tidak akan menyingkirkan kami," katanya, seraya menambahkan bahwa isolasionisme akan menjadi suatu kesalahan.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber AFP
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
Paus Fransiskus Muncul untuk Pertama Kalinya sejak Dikabarkan Sakit

Paus Fransiskus Muncul untuk Pertama Kalinya sejak Dikabarkan Sakit

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X