Kompas.com - 21/01/2015, 12:05 WIB
EditorErvan Hardoko
SYDNEY, KOMPAS.com - Seorang petugas kepolisian Malaysia yang dijatuhi vonis hukuman mati terkait pembunuhan seorang model asal Mongolia dalam sebuah skandal yang terkait dengan dugaan korupsi pejabat pemerintah telah ditahan di Australia. Demikian sebuah laporan menyebutkan, Rabu (21/1/2015).

Lembaga penyiaran publik Australia, ABC, mengabarkan Sirul Azmar Umar, terpidana dalam kasus pembunuhan Altantuya Shaariibuu (28), dijemput petugas imigrasi Australia di negara bagian Queensland.

Departemen Imigrasi Australia belum memberikan konfirmasi berkaitan dengan identitas pria yang kini ditahan, namun membenarkan pemerintah Malaysi menginginkan pria yang ditahan itu.

"Departemen (Imigrasi) memahami bahwa pemerintah Malaysia menginginkan orang ini, namun karena masalah privasi kami tak dapat berkomentar lebih jauh," ujar juru bicara Kementerian Imigrasi Australia.

Sisa jasad Altantuya ditemukan di sebuah hutan dekat Kuala Lumpur setelah diyakini tewas ditembak dan jasadnya diledakkan dengan menggunakan bahan peledak masa depan.

Sirul dan rekannya di pasukan elite penjaga pejabat negara Azilah Hadri sama-sama membantah terlibat dalam pembunuhan Altantuya, seorang model dan penerjemah. Meski demikian keduanya divonis hukuman mati pada 2009.

Kedua orang itu kemudian dibebaskan saat pengadilan banding membatalkan vonis mereka pada 2013 setelah menemukan banyak pertanyaan terkait pelaksaan sidang kedua polisi itu.

Namun pekan lalu Mahkamah Agung Malaysia justru kembali meneguhkan hukuman mati untuk keduanya yang dijatuhkan pada 2009 itu.

Saat itu, Azilah Hadri yang terlihat terkejut langsung dibawa keluar ruangan sidang. Sedangkan kuasa hukum Sirul mengatakan mereka tidak mengetahui keberadaan sang klien sehingga pengadilan langsung menerbitkan surat penahanan.

Para pengkritik pemerintah Malaysia sudah sejak lama menduga bahwa Sirul dan Azilah adalah sekadar kambing hitam dalam kasus pembunuhan Antaltuya yang berada di tengah pusaran dugaan korupsi sebesar 1,1 miliar dolar dalam pembelian kapal selam Scorpene dari Perancis pada 2002.

Untuk menambah rumit kasus ini, Antaltuya adalah kekasih Abdul Razak Bagina - pria yang bertanggung jawab atas pembelian kapal selam dan rekan dekat PM Najib Razak. Saat itu, Najib menjabat sebagai menteri pertahanan Malaysia.

Dugaan yang muncul selama bertahun-tahun, Antaltuya dibunuh agar tidak membuka mulut seputar kemungkinan praktik korupsi di antara para pejabat tinggi Malaysia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.