Kompas.com - 15/01/2015, 18:33 WIB
EditorErvan Hardoko
NEW DELHI, KOMPAS.com — Lebih dari 100 jenazah, sebagian besar jasad anak-anak, ditemukan di bantaran Sungai Gangga, India. Pejabat setempat menduga jasad-jasad itu sengaja "ditaruh" di sungai karena pihak keluarga yang tak punya biaya untuk melakukan kremasi.

Meski hal ini tidak dianggap sebagai sebuah kejahatan, fakta ini memunculkan kekhawatiran terkait kebersihan Sungai Gangga, sungai yang dianggap suci bagi umat Hindu India yang biasa menjadi lokasi kremasi orang yang sudah meninggal dunia.

Ke-102 jenazah itu ditemukan mengambang di dekat desa Pariyar, Uttar Pradesh, negara bagian paling padat di India. Kondisi jenazah-jenazah itu sudah dalam kondisi rusak sehingga proses identifikasi sulit dilakukan. Kini tes DNA sedang dilakukan untuk mengetahui kemungkinan asal jenazah-jenazah tersebut.

"Setelah kami melengkapi sebuah persyaratan legal, jenazah-jenazah itu akan dikuburkan untuk mencegah penyebaran penyakit," kata hakim lokal, Saryua Shukla.

Tayangan televisi setempat memperlihatkan burung dan anjing menyantap jenazah-jenazah yang sudah mulai membusuk dan mengapung di lokasi yang dangkal.

Seorang perwira polisi, Satish Ganesh, menduga, jenazah-jenazah itu dihanyutkan warga di bagian hulu sungai di lokasi kremasi bernama Pariyar Ghat, sebelum terdampar di lokasi yang dangkal itu.

Jutaan umat Hindu India terbiasa melakukan kremasi jenazah di ruang terbuka dan abu jenazah biasanya disebarkan keluarga di Sungai Gangga.

Namun, warga miskin yang tak mampu membeli cukup kayu dan material lain untuk menggelar upacara kremasi terkadang meletakkan begitu saja jenazah kerabat mereka di sungai.

Selain jasad orang miskin, biasanya jasad seorang perempuan yang belum menikah juga dihanyutkan begitu saja di sungai. Sebagian umat Hindu India yakin dengan cara seperti itu maka perempuan yang sudah meninggal itu akan terlahir kembali di tengah keluarganya.

Sementara itu, pemerintahan nasionalis Hindu pimpinan PM Narendra Modi bertekad untuk membersihkan Sungai Gangga. Namun, penemuan ratusan jasad itu menimbulkan kekhawatiran terkait dampak lingkungan dan kesehatan yang disebabkannya.

Sebab, umat Hindu India biasa menggunakan Sungai Gangga untuk mandi sebagai bagian dalam sebuah ritual penyucian diri. Namun, sungai sepanjang 2.500 kilometer yang mengalir dari pegunungan Himalaya hingga Teluk Bengala itu dipenuhi sampah dan kian hari debit airnya semakin berkurang.

"Tradisi menghanyutkan jasad di sungai seperti ini sebenarnya membahayakan kesehatan manusia karena jenazah-jenazah itu membusuk dengan cepat di sungai," kata Mallika Bhanot dari organisasi lingkungan Ganga Ahvaan.

"Dulu jasad itu akan hanyut mengikuti arus sungai dan di tengah jalan jasad itu akan dimakan ikan atau hewan sungai lainnya. Jadi, budaya ini sangat menyatu dengan alam," lanjut Mallika.

Sayangnya, terus berkurangnya debit air membuat sungai semakin dangkal dan akibatnya jenazah-jenazah itu tidak hanyut bersama sungai, tetapi terdampar di satu tempat dan membusuk di tempat tersebut.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber Daily Mail
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.