Kompas.com - 13/01/2015, 14:58 WIB
EditorEgidius Patnistik
KISAH ini bermula dari penegasan Pemimpin Hezbollah Hassan Nasrallah pada 2009 untuk balas dendam atas tewasnya komandan sayap militer organisasinya, Imad Mughniyeh, dalam bom mobil di Damaskus, 12 Februari 2008.

Hezbollah menuding Israel di balik pembunuhan bom mobil Mughniyeh itu. Namun, secara resmi Israel membantahnya.

Hezbollah pun memberi mandat operasi balas dendam pada Israel kepada kepala unit operasi eksternal. Media Lebanon menyebut, posisi itu dijabat Mohammad Shawraba.

Namun, tak satu pun lima upaya balas dendam mereka menemui hasil. Selalu ada sabotase. Hezbollah mulai merasa ada hal yang tidak beres dalam operasi-operasinya setelah insiden serangan pada turis Israel di Bulgaria pada 2012.

Saat itu, selain lima turis Israel dan pengemudi tewas, pelaku bom juga tewas. Dua pembantu serangan bom dengan mudah diidentifikasi otoritas Bulgaria. Harian Lebanon Daily Star melaporkan, identitas mereka bersumber dari Israel, yang dipasok informasi Shawraba.

Untuk memastikan jati diri ”sang pengkhianat di markasnya”, Hezbollah memasok informasi palsu kepada Shawraba, ada gudang senjata di Damaskus yang akan dikirim ke Hezbollah. Tak lama kemudian, jet-jet tempur Israel menggempur lokasi yang dimaksud dalam informasi palsu sebagai jebakan itu.

Setelah melalui investigasi tujuh bulan, September lalu Hezbollah menangkap Shawraba. Berita penangkapan itu dirilis kantor berita AFP, mengutip sumber yang dekat dengan Hezbollah, 25 Desember lalu.

Dari penyelidikan internal organisasi beraliran Syiah itu, Shawraba diketahui bekerja untuk agen rahasia Israel, Mossad, sejak 2007. Shawraba kerap bepergian ke luar negeri. Saat di luar negeri itu, ia direkrut Mossad.

Kasus penangkapan Shawraba terkait spionase dengan dinas rahasia Israel seolah terkonfirmasi saat Deputi Pemimpin Hezbollah Naim Qassem memberi wawancara dengan radio Al-Nour, yang berafiliasi ke Hezbollah, awal Januari ini.

”Hezbollah bekerja intens memerangi spionase di kalangan pejabat terasnya dan kelompoknya. Beberapa kasus mencuat ke permukaan, dan kasus-kasus itu sangat terbatas,” kata Qassem.

Beberapa pejabat Israel tidak memberi jawaban saat diminta konfirmasi terkait kasus itu.

Meski sebelumnya pernah mengakui ada penyusupan mata-mata, termasuk dua agen rahasia Badan Intelijen Pusat AS (CIA), markas Hezbollah jarang ditembus agen rahasia asing.

Menurut sejumlah analis, insiden penyusupan agen Mossad di markas Hezbollah tak lepas dari kian berkembangnya organisasi itu. Dari organisasi untuk melawan serangan Israel bentukan 1980, Hezbollah kini menjelma aktor nonnegara yang bisa mengirim ribuan personel pasukan ke Suriah, membantu Bashar al-Assad.

”Organisasi mana pun yang berkembang dan hadir besar-besaran menjadi lebih mudah disusupi,” kata Qassem Qassir, pakar Hezbollah, kepada laman berita Uni Emirat Arab, National. ”Ini sinyal dan lonceng peringatan, Hezbollah perlu mengevaluasi kembali kebijakan dan aksi-aksinya.” (SAM)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.