Kompas.com - 29/12/2014, 06:16 WIB
EditorPalupi Annisa Auliani
LONDON, KOMPAS.com — Pakar penerbangan, Geoffrey Thomas, berpendapat, insiden hilang kontak pesawat AirAsia berkode penerbangan QZ8501 sama seperti tragedi jatuhnya pesawat Air France berkode penerbangan AF447 pada 2009.

Menurut Thomas, pilot QZ8501 kemungkinan menerbangkan pesawat dengan kecepatan terlalu rendah ketika bertemu dengan cuaca buruk yang ekstrem.

"Para pilot berkeyakinan, kru (QZ8501) dalam upaya menambah ketinggian untuk menghindari badai, entah bagaimana menyadari bahwa mereka terbang terlalu lambat," ujar dia.

"Dengan kecepatan itu, mereka tertarik ke aerodynamic stall, seperti yang terjadi dalam hilangnya Air France AF447 pada 2009," lanjut Thomas, seperti dikutip dari AAP.

Pada 2009, Air France AF44 jatuh ke Samudra Atlantik dalam perjalanan dari Rio de Janeiro, Brasil, menuju Paris, Perancis.

Thomas memperkirakan, kecepatan AirAsia QZ8501 sekitar 100 knot, setara sekitar 160 kilometer per jam. "Terlalu lambat. Saat itu ketinggiannya juga sangat berbahaya," ujar dia.

Menurut Thomas, Airbus A320-200 yang dipakai dalam penerbangan ini merupakan pesawat canggih. Dengan pemikiran tersebut, dia berpendapat bahwa pesawat ini hilang kontak karena faktor cuaca ekstrem semata.

"Pesawat ini 'tertangkap' oleh tarikan udara ke atas atau sesuatu semacam itu, sesuatu yang sangat tidak beres," ujar Thomas.

Prinsip situasinya, papar Thomas, pesawat tersebut terbang dengan kecepatan terlalu lambat untuk ketinggiannya saat itu, dan udara terlalu tipis sehingga sayap tidak mampu lagi menopangnya. "Pesawat pun stall. Aerodynamic stall."

Meski sudah menyebut A320 sebagai pesawat canggih, Thomas mengatakan, radar di pesawat tersebut bukan produk terbaru. Menurut dia, radar yang terpasang di A320 kadang-kadang bermasalah ketika berada di lingkungan berbadai. "Ada kemungkinan pilot tertipu oleh kondisi itu."

Radar terbaru yang penggunaannya dipelopori oleh Qantas pada 2002, sebut Thomas, memiliki kemampuan pembacaan yang lebih lengkap dan akurat terhadap badai. Namun, radar baru ini belum tersertifikasi untuk bisa dipakai di A320 sebelum 2015.

"Ketika Anda tak punya alat yang disebut dengan multi-skilled radar itu, Anda harus mencermati data radar itu secara manual. Anda harus melihat ke dalam badai, berapa intensitas kelembaban dan hujan di dalamnya, lalu Anda membuat keputusan seberapa buruk itu. (Secara) manual, bisa jadi ada kesalahan, dan itu yang terjadi."

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.