Kompas.com - 18/12/2014, 10:50 WIB
EditorEgidius Patnistik
Tulisan berikut ini merupakan pengalaman dan pendapat pribadi Nuri Yulianti, yang saat ini mendampingi suaminya dalam menempuh pendidikan doktoral di Gold Coast, Queensland. Nuri merupakan ibu dari dua anak dan sudah empat tahun tinggal di Australia.

KOMPAS.COM — Insiden penyanderaan di Martin Place Sydney, Australia, sudah berakhir, tetapi dampak penyanderaan tersebut tidak saja dirasakan oleh mereka yang langsung terlibat.

Penyanderaan pada Senin (15/12/2014) di Lindt Chocolate Cafe di CBD Sydney dilakukan oleh seorang pria bernama Haron Monis.

Sayangnya, dalam drama ini (kalau boleh dibilang drama), laki-laki tersebut menggunakan bendera hitam yang bertuliskan kalimat syahadat, yaitu "Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah". Beberapa komunitas Muslim di Australia mengutuk aksi laki-laki ini.

Ketika mendengar berita itu melalui ABC News, kekhawatiran mulai muncul di kepala saya. Again??? Baru saja rasanya sebulan yang lalu berita tentang pemenggalan kepala oleh ISIS mulai menghilang dari pembicaraan. Sekarang, berita seperti ini muncul lagi. Tersebarnya video-video pemenggalan yang dilakukan oleh ISIS lewat berita-berita Australia cukup memberikan dampak yang negatif, terutama bagi perempuan Muslim di Australia. Beberapa perempuan Muslim berhijab, dan masjid menjadi sasaran dari Islamophobia di Australia.

Tentu saja ada kekhawatiran yang muncul di kepala saya karena saya perempuan, Muslim, dan "jelas sekali" karena saya mengenakan hijab atau jilbab. Pikiran itu menari-nari di kepala saya. Saya takut jika tiba-tiba ada orang yang menyerang saya dengan kata-kata jahat atau orang-orang melihat saya dengan rasa takut seperti melihat hantu atau perasaan benci. Mungkin beberapa perempuan Muslim di Australia berpikiran sama seperti saya.

Pikiran kelompok minoritas di Australia.

Sungguh saya sebelumnya tidak pernah punya perasaan dan pikiran seperti ini ketika saya tergolong mayoritas di Indonesia. Dalam hati, saya berkata, inilah mungkin yang dirasakan oleh mereka yang minoritas di beberapa negara. Kita tidak pernah merasakan hal seperti ini bukan, kalau kita tidak pernah jadi minoritas? Tidak bisa dimungkiri, adanya perasaan-perasaan seperti itu justru membuat saya merasa tertantang. Saya mencoba menunjukkan sikap, tindakan, dan pribadi bahwa kami Muslim, bukan teroris.

Selama hampir 4 tahun di Australia, saya sudah 3 tahun menjadi relawan dalam kelompok persahabatan multibudaya di sebuah pusat untuk keluarga dan anak-anak, di tempat tinggal saya. Tujuan saya adalah untuk berteman dengan orang dari berbagai negara dan agama serta melatih bahasa Inggris saya. Dalam  kelompok ini, saya dengan bangga memperlihatkan kultur saya sebagai orang Indonesia, dan dengan senang hati menjelaskan tentang Islam kepada teman-teman "bule" saya.

Mereka meresponsnya dengan positif. Saya percaya Islamophobia timbul karena ketidaktahuan mereka tentang Islam.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.