Kompas.com - 31/10/2014, 10:16 WIB
EditorEgidius Patnistik
ARBIL, KOMPAS.COM - Jana berusia 19 tahun dan berada di tahun terakhir sekolah menengah atas. Gadis Yazidi itu bercita-cita menjadi dokter. Namun tiba-tiba ISIS menyerbu desanya Agustus lalu. Dunianya pun runtuh.

Dia menjelaskan secara rinci kepada wartawan CNN, Ivan Watson, tentang pengalamannya yang mengerikan, soal bagaimana militan ISIS pertama kali menuntut anggota komunitas agama minoritas Yazidi untuk masuk Islam. Kaum militan itu kemudian melucuti perhiasan, uang dan ponsel para penduduk desa. Mereka memisahkan para laki-laki dari kaum perempuan.

Sebuah laporan PBB menjelaskan apa yang terjadi selanjutnya. ISIS "mengumpulkan semua laki-laki berusia 10 tahun ke atas di sekolah setempat, membawa mereka ke  luar desa dengan sejumlah truk pick-up, dan menembak mereka."

Di antara mereka yang diyakini tewas adalah ayah dan kakak tertua Jana.

Nasib berbeda dialami para perempuan. Jana menggambarkan bagaimana gadis-gadis seperti dirinya dipisahkan dari perempuan yang lebih tua, kemudian dibawa dengan bus ke kota Mosul. Di sana mereka ditempatkan di sebuah rumah besar bertingkat tiga bersama ratusan perempuan muda lainnya. Para laki-laki ISIS datang secara berkala, dan memilih tiga sampai empat gadis untuk dibawa pulang bersama mereka.

"Para perempuan itu diperlakukan seperti ternak," kata Nazand Begikhani, seorang penasihat Pemerintah Daerah Kurdistan tentang isu-isu jender. "Mereka telah mengalami kekerasan fisik dan seksual, termasuk perkosaan sistematis dan perbudakan seks. Mereka dipajang di pasar di Mosul dan di Raqqa, Suriah, dan diberi label harga."

Menurut penelitian lapangan dan kesaksian dari tim Begikhani, yang merupakan seorang peneliti di Pusat Riset Jender dan Kekerasan Universitas Bristol yang berbasis di Inggris, ISIS telah menculik lebih dari 2.500 perempuan Yazidi.

Sementara Narin Shiekh Shamo, aktivis Yazidi yang berbasis di Kurdistan Irak, telah menyusun nama-nama setidaknya 4.601 perempuan Yazidi yang saat ini hilang. Pada bulan pertama setelah penculikan massal, Shamo mengatakan dirinya menerima telepon dan pesan dari hampir 70 sandera yang berbeda dalam sehari.

Ivan Watson mengatakan, setelah lebih dari satu dekade meliput konflik di Timur Tengah, dirinya masih tidak siap untuk mendengar tentang skala penculikan dan perbudakan modern itu. Namun keterangan seorang militan ISIS berusia 19 tahun yang diwawancaranya pekan lalu di sebuah penjara Kurdi di Suriah utara membuat semuanya terdengar masuk akal bagi Watson. Pemuda itu, yang menderita cacat mengerikan akibat luka tembak di perut dan lengan yang dialaminya selama pertempuran di garis depan, menggambarkan bagaimana ISIS menarik anggota baru dengan iming-iming uang tunai dan "sejumlah istri."

ISIS telah membenarkan perbudakan atas warga Yazidi di majalah online kelompok teror itu. "Orang harus tahu bahwa memperbudak keluarga orang-orang kafir dan menjadikan para perempuan mereka sebagai selir merupakan hal yang sangat jelas dalam syariah, atau hukum Islam," kata ISIS dalam majalahnya yang diberi nama "Dabiq."

Pihak berwenang Kurdi mengatakan, mereka telah menyelamatkan sekitar 100 perempuan Yazidi, sebagian melalui pembayaran uang tebusan kepada sejumlah suku Arab yang bertindak sebagai perantara.

Ribuan perempuan masih tetap disandera.

Karena ISIS sukses mempertahankan wilayahnya dari gempuran koalisi longgar yang terdiri dari militer Irak, pasukan Peshmerga Kurdi Irak, kaum militan Kurdi Suriah dan serangan udara pimpinan AS, maka para perempuan miskin yang masih tersekap belum bisa diselamatkan dalam waktu dekat.

Begikhani mengatakan, semua 100 perempuan Yazidi yang diselamatkan dari ISIS tampaknya telah diperkosa secara sistematis, kemungkinan oleh lebih dari satu orang.

Jana yang telah berbicara dengan Watson di Kurdistan Irak sangat trauma. Gadis itu, kata Watson, tidak mampu menunjukkan rasa sukacita atau humor apapun. Ibunya dan dua saudara masih disandera ISIS.

Saat ditanya Watson apa yang akan dia katakan jika bertemu dengan pria Arab usia 70 tahun yang telah membawanya dan memerintahkan dia untuk masuk Islam di bawah todongan senjata, Jana mengatakan, "Saya tidak ingin mengatakan apa pun. Saya hanya ingin membunuhnya."

Gadis itu mengatakan, dia tidak lagi bermimpi untuk menjadi dokter.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.