Kompas.com - 27/09/2014, 04:10 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani

HONGKONG, KOMPAS.com - Lebih dari 100 pelajar yang menyatakan diri sebagai pelajar prodemokrasi "menyerbu" kantor pemerintahan dan terlibat baku hantam dengan polisi, Jumat (26/9/2014). Mereka menentang keputusan Pemerintah Beijing yang meniadakan pemilihan langsung untuk penguasa wilayah Hongkong pada 2017.

Polisi menyemprotkan cairan merica kepada para siswa untuk menghalangi mereka menuju gerbang dan memanjat pagar tinggi yang melindungi gedung pemerintahan. Pemimpin demonstrasi Joshua Wong diseret dan ditendang polisi hingga lengannya berdarah.

Teriakan Wong menyatu dengan teriakan demonstran lain yang berusaha menariknya dari cekalan polisi. "Masa depan Hongkong milikmu, kamu, dan kamu," teria dia, menyemangani para pelajar, sebelum dia dibawa pergi oleh polisi.

"Saya ingin berkata ke CY Leung dan Xi Jinping bahwa misi berjuang untuk hak pilih universal bukan hanya tanggung jawab anak muda, melainkan setiap orang," lanjut Wong, merujuk pada pemimpin Hongkong dan Tiongkok sekarang.

Para demonstran saling melingkarkan lengan sambil menyanyikan lagu perjuangan ketika polisi mengelilingi mereka dengan barikade besi. Hingga Sabtu (27/9/2014) dini hari, ada sekitar seribu pelajar berkumpul berada di luar kantor pusat pemerintahan meneriakkan "Free the people", dengan 100 demonstran ada di dalam pagar kantor itu.

Sedikitnya empat orang ditandu karena terluka dalam aksi protes tersebut. Aksi ini merupakan protes jalanan terbesar sejak keputusan Beijing terkait pemilihan penguasa Hongkong diumumkan pada Agustus 2014. "Kami masih menuntut hak pilih universal," kata Ketua Federasi Pelajar Hongkong, Alex Chow.

Lebih dari seribu siswa bergabung dan mendukung para mahasiswa menuntut demokrasi penuh untuk Hongkong, mengakhiri kampanye panjang pekan ini, termasuk mogok sekolah dan menampilkan arak-arakan yang menampilkan rupa pemimpin Hongkong sebagai setan.

Pada Jumat (26/9/2014) pagi, ratusan pelajar yang memakai seragam sekolah berkumpul di taman dekat kantor pemerintahan. Mereka menggunakan pita kuning dan stiker yang bertuliskan "Hancurkan Kediktatoran Partai Komunis Tiongkok".

"Kami harus beraksi sekarang juga. Terlalu banyak orang di Hongkong yang cuek dengan politik, tetapi itu tak benar. Politik ini akan begitu mempengaruhi prospek masa depan kami," kata Louis Yeung (17), salah satu pelajar yang terlibat aksi.

Sementara itu, sekitar 200 pelajar menginap di luar rumah pemimpin Hongkong Leung Chun-ying sejak Kamis (25/9/2014). Aksi tersebut mereka lakukan setelah Leung menolak bertemu dengan para siswa untuk berdialog mengenai masa depan demokrasi di wilayah adminsitrasi khusus tersebut.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.