Kompas.com - 18/09/2014, 15:23 WIB
EditorEgidius Patnistik
LONDON, KOMPAS.com  ISIS secara sengaja sedang berupaya untuk "menyeret Barat" ke dalam perang baru di Irak, kata salah seorang pakar terkemuka dunia tentang terorisme Islam.

Kepada Huffington Post Inggris, mantan agen khusus FBI, Ali Soufan, yang memelopori biro perburuan Osama bin Laden, mengatakan, dia "skeptis" terkait rencana Pemerintah AS menangkal ISIS. "Obama tidak menyediakan strategi yang komprehensif, dia memberikan sebuah rencana yang di dalamnya terdapat serangkaian taktik. Kita masih kehilangan sebuah strategi untuk memerangi akar ekstremisme. Kita sudah punya taktik, tetapi tidak ada strategi untuk memerangi ideologi."

Warga AS itu, yang kini mengelola Soufan Group, yang mengembangkan strategi-strategi kontraterorisme untuk klien pemerintah dan korporasi, mengatakan, pemenggalan dua wartawan AS dan seorang pekerja bantuan Inggris baru-baru ini tidak ditujukan untuk menghalangi intervensi militer Barat di Irak dan Suriah, tetapi justru untuk memprovokasi. "Mereka sedang mencoba untuk menyeret Barat ke dalam perang melawan mereka," katanya. "Kemudian mereka tidak hanya akan menjadi anak nakal kawasan, tetapi anak nakal gerakan militan global. Mereka kemudian dapat mengklaim bahwa mereka sedang terlibat dalam sebuah perang internasional, sebuah Perang Salib modern, melawan semua negara yang datang melawan mereka."

Menurut Soufan, ISIS "takut kaum Islamis di dalam (gerakannya) berbalik melawan mereka. Mereka ingin melawan Inggris dan Amerika... guna menyatukan para ekstremis di dalam kelompoknya dan mengurangi segala jenis ancaman berarti (buat mereka) di dalam basis dukungannya. Mereka tidak takut dengan orang-orang sekuler atau moderat."

Soufan memimpin investigasi FBI terkait pengeboman Al Qaeda terhadap kapal USS Cole tahun 2000 dan telah menginterogasi, antara lain, mantan pengawal Osama bin Laden, Abu Jandal. Dia mengatakan kepada HuffPost Inggris, para petempur ISIS "akhirnya" akan menyasar negara-negara Barat. "Itulah sebabnya mengapa mereka bekerja keras untuk merekrut orang-orang dari Barat. Mereka mampu merekrut lebih banyak orang dari Barat ketimbang yang pernah diimpikan Al Qaeda."

Soufan menegaskan, ia mendukung serangan udara AS dan sekutunya yang menyasar posisi-posisi ISIS, tetapi hanya sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk mengatasi akar penyebab ekstremisme di dunia mayoritas Muslim.

"Serangan militer hanya alat, bukan strategi. Solusinya tidak hanya oleh pesawat tanpa awak. Bukan hanya oleh serangan udara. Solusinya adalah solusi regional dan itu adalah tentang mengalahkan ideologi yang mempromosikan kelompok-kelompok ekstremis seperti ISIS, mengalahkan faktor-faktor inkubasi yang mendorong ekstremisme, dan (membuat) negara-negara di kawasan itu mengerti bahwa mereka tidak dapat menggunakan kaum ekstremis sebagai kepanjangan tangannya dalam melawan yang lain."

Secara khusus Soufan menekankan kebutuhan untuk "berurusan dengan lingkungan regional" di mana kelompok-kelompok ekstremis itu telah diizinkan untuk tumbuh dan bermutasi. "Selama ada konflik antara Iran dan Arab Saudi, Anda punya banyak masalah yang memungkinkan ISIS dan kelompok-kelompok lainnya muncul. Anda membutuhkan solusi regional untuk masalah regional."

Ia mengatakan, aksi militer memang tidak dapat dihindari karena "ISIS tidak akan dikalahkan dengan kata-kata". Namun, mantan agen FBI itu menentang untuk menempatkan orang dari Barat di daratan. Karena pertarungan ini tentang dunia Muslim, ini adalah tentang jiwa Islam. Akarnya tidak semata-mata berbasis di AS atau Barat, hal itu terutama berbasis di dunia Muslim.

Dia mengatakan, koalisi baru anti-ISIS yang sedang coba dibangun pemerintahan Obama di Timur Tengah mungkin tidak pas, mengingat ada agenda yang berbeda dari negara-negara terlibat. "Sayangnya, apa yang kita lihat dengan semua negara ini, yang terdafar untuk koalisi ini (adalah bahwa) masing-masing negara itu, Arab Saudi, Turki, Mesir, dll, tampaknya akan berusaha untuk mengooptasi perang melawan ISIS demi mempromosikan kepentingan sendiri."

Soufan juga menyoroti peran para anggota koalisi Teluk dalam mengipasi api ideologis yang dia sebut "Bin Ladenisme" dan mengatakan beberapa otokrasi yang dipimpin kaum Suni di seluruh wilayah itu sekarang "takut ISIS" hanya "karena" ISIS menjadi harimau yang tidak bisa lagi mereka tunggangi.

Namun, mantan agen FBI itu menepis mereka di Barat yang menyerukan aliansi anti-ISIS juga mesti melibatkan rezim Bashar Al Assad di Suriah. "Saya tidak berpikir kita harus bekerja sama dengan Assad," katanya kepada HuffPost Inggris. "Di Barat, kita berpikir musuh dari musuh saya adalah teman saya. Di Timur Tengah, musuh dari musuh juga bisa menjadi musuh."

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.