Kompas.com - 11/09/2014, 13:40 WIB
EditorEgidius Patnistik
KOMPAS.COM — Sebelum memulai kisah gadis ini, wartawan lepas, Mohammed A Salih, yang menulis berita ini untuk harian Washington Post, membuat catatan berikut.

"Ini merupakan kisah yang diceritakan kepada saya oleh seorang gadis Yazidi berusia 14 tahun yang saya panggil saja 'Narin'. Saat ini, dia tinggal di bagian utara Kurdistan, Irak. Saya seorang wartawan Kurdi dengan gelar jurnalistik dari University of Missouri di Columbia yang meliput Irak utara sebagai seorang wartawan lepas (freelancer) untuk sejumlah media berita internasional. Saya mendengar kisah Narin dari seorang teman warga Yazidi yang mengenal gadis itu. Selain menerjemahkan dari bahasa Kurdi dan mengutip kisahnya bersama sejumlah editor Washington Post, satu-satunya yang saya ubah adalah nama, sesuai permintaan Narin, demi melindungi dirinya dan para korban lain dari aksi balas dendam. Banyak kerabat Narin yang masih disekap."

*   *   *

SAAT sang surya terbit di atas desaku yang berdebu pada 3 Agustus lalu, sejumlah kerabat memberitahukan berita menakutkan: kaum militan dari Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS mendatangi kami. Aku mengharapkan satu hari penuh tugas rumah tangga di Tel Uzer, tempat yang tenang di dataran Nineveh barat, Irak, di mana aku tinggal bersama keluargaku. Alih-alih, kami justru bergegas keluar kota dengan berjalan kaki, hanya membawa pakaian dan beberapa barang berharga.

Setelah satu jam berjalan ke utara, kami berhenti untuk minum air dari sebuah sumur di jantung gurun. Rencana kami adalah berlindung di Gunung Sinjar, bersama ribuan warga Yazidi lain seperti kami yang telah melarikan diri ke sana, karena kami mendengar banyak cerita tentang kebrutalan ISIS dan apa yang mereka lakukan terhadap orang yang tidak seagama dengan mereka. Mereka paksa kaum minoritas pindah agama atau membunuh mereka. Namun, tiba-tiba sejumlah kendaraan muncul dan kami mendapati diri dikelilingi kaum militan yang mengenakan seragam ISIS. Beberapa orang menjerit histeris. Kami takut akan nasib kami. Hingga usiaku mencapai 14 tahun, aku belum pernah merasa sedemikan tak berdaya. Mereka telah menghalangi jalan kami dan tidak ada yang bisa kami lakukan.

Kaum militan memisahkan kami berdasarkan jenis kelamin dan usia. Satu kelompok untuk para pria muda dan yang masih kuat, satu kelompok lagi untuk para gadis belia dan wanita muda, dan kelompok ketiga untuk pria dan wanita tua. Kaum militan itu mencuri uang tunai dan perhiasan dari kelompok terakhir itu dan meninggalkan mereka sendirian di oasis. Lalu, mereka menempatkan para gadis dan perempuan dalam sejumlah truk. Ketika mereka membawa kami pergi, kami mendengar suara tembakan. Belakangan, kami mengetahui bahwa mereka membunuh para pria muda, termasuk saudaraku yang berusia 19 tahun, yang baru saja menikah enam bulan lalu.

Sore itu, mereka membawa kami ke sebuah sekolah kosong di Baaj, sebuah kota kecil di sebelah barat Mosul, dekat perbatasan Suriah. Kami bertemu dengan banyak perempuan Yazidi lain yang ditangkap ISIS. Ayah, saudara, dan suami mereka juga telah tewas. Demikian kata mereka kepada kami. Kemudian, sejumlah militan ISIS masuk. Salah satunya membacakan kalimat syahadat dan mengatakan bahwa jika kami mengulangi kalimat itu, kami akan menjadi Muslim. Namun, kami tolak. Mereka marah. Mereka menghina dan mengecam kami dan keyakinan kami.

Beberapa hari kemudian, kami dibawa ke sebuah aula besar yang penuh dengan puluhan gadis belia dan perempuan Yazidi di Mosul, di mana ISIS punya kantor pusat untuk wilayah Irak. Beberapa anggota ISIS itu seusiaku. Mereka memberi tahu bahwa kami kafir dan menyekap kami selama 20 hari di dalam gedung itu, di mana kami tidur di lantai dan makan hanya sekali sehari. Sesekali, seorang anggota ISIS akan datang dan memberi tahu kami untuk jadi mualaf, tetapi setiap kali kami tolak. Sebagai umat Yazidi yang setia, kami tidak akan meninggalkan agama kami. Kami banyak menangis dan meratapi kerugian yang diderita masyarakat kami.

Suatu hari, para penjaga kami memisahkan perempuan yang telah menikah dari mereka yang belum menikah. Teman baik dari masa kecilku, Shayma, dan aku dijadikan sebagai hadiah untuk dua anggota ISIS dari selatan, dekat Baghdad. Mereka ingin menjadikan kami istri atau selir mereka. Shayma diberikan kepada Abu Hussein, yang merupakan seorang ulama. Aku diberikan ke seorang pria gendut, berjanggut gelap berusia sekitar 50 tahun, yang tampaknya berpangkat tinggi. Dia menggunakan nama julukan Abu Ahmed. Mereka mengantar kami ke rumah mereka di Fallujah. Dalam perjalanan, kami melihat banyak anggota ISIS dan sisa-sisa pertempuran mereka.


SAFIN HAMED / AFP Para perempuan dan anak-anak etnis Yazidi yang meninggalkan kota Sinjar yang diduduki ISIS, ditampung di sebuah gedung sekolah di kota Dohuk, Wilayah Otonomi Kurdi.
Abu Ahmed, Abu Hussein, dan seorang pembantu tinggal di sebuah rumah di Fallujah yang tampak seperti sebuah istana. Abu Ahmed terus mengatakan kepadaku untuk jadi mualaf. Namun, saya diabaikan. Dia beberapa kali mencoba untuk memerkosaku, tetapi aku tidak membiarkan dia menyentuhku secara seksual. Dia lalu mengutuk dan memukuliku setiap hari, meninju, dan menendangku. Dia memberiku makan hanya sekali sehari. Shayma dan aku mulai mendiskusikan untuk melakukan bunuh diri.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.