Kompas.com - 05/09/2014, 11:02 WIB
EditorEgidius Patnistik

Butler bercerita kepada wartawan bahwa awalnya dia ingin terjun ke medan perang sebagai perawat. Ia datang ke Sydney dan berusaha bergabung dengan palang merah, tetapi gagal.

Ia bisa membantu Palang Merah di Australia, tetapi tak akan dikirim ke luar negeri.

Sudah ada ratusan perempuan, baik suster terlatih maupun sukarelawan, yang ingin ke medan perang. Bahkan, ada yang membayar demi bisa melakukan itu.

Namun, Butler lahir dari keluarga sederhana, jadi tak mungkin dia bisa membayar. Ayahnya seorang petambang batu bara yang membesarkan empat anaknya seorang diri. Butler sendiri saat itu mencari nafkah sebagai pelayan.

Profesor Haskins, yang meneliti Butler, menerima bantuan dana dari Arts NSW Centenary of Anzac Commemoration History Fellowship untuk meneliti dampak perang terhadap perempuan Australia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.