Kompas.com - 06/08/2014, 05:00 WIB
Pria Palestina menggendong seorang bocah saat pemakaman Muhammad Abu Shagfa, 7 tahun, yang tewas dalam ledakan di kamp pengungsi Shati, di Jalur Gaza, Senin (28/7/2014). Ledakan menewaskan 10 orang, 9 di antaranya anak-anak, di sebuah taman di kamp pengungsi Shati, di bagian utara Jalur Gaza. AP PHOTO / Lefteris PitarakisPria Palestina menggendong seorang bocah saat pemakaman Muhammad Abu Shagfa, 7 tahun, yang tewas dalam ledakan di kamp pengungsi Shati, di Jalur Gaza, Senin (28/7/2014). Ledakan menewaskan 10 orang, 9 di antaranya anak-anak, di sebuah taman di kamp pengungsi Shati, di bagian utara Jalur Gaza.
EditorHindra Liauw

KOMPAS.com — Lebih dari 1.800 orang telah kehilangan nyawa di Gaza pada konflik antara militer Israel dan pejuang Hamas sejak tiga minggu yang lalu. Menurut data PBB termutakhir, sekitar 296 dari korban-korban tersebut adalah anak-anak.

Tentang anak-anak Gaza yang besar di tengah perang, ada kekhawatiran, perang akan berdampak signifikan terhadap perkembangan mereka. Sementara, sampai saat ini, konflik tersebut sampai sekarang belum ada tanda-tanda purna.

Catherin Weibel, Kepala Komunikasi untuk United Nations Children's Fund (Unicef), pada sebuah wawancara dengan The WorldPost di Jerusalem, seperti dilansir The Huffington Post, menyebutkan, ini adalah eskalasi kekerasan ketiga dalam enam tahun bagi anak-anak di wilayah tersebut.

Secara psikologis, ada dua dampak besar yang disoroti oleh Weibel: pertama, kekerasan menjadi sesuatu yang normal. Dampak ini akan terlihat jelas ketika anak-anak tersebut mulai menginjak dewasa; di mana beberapa anak akan lebih berani mengambil risiko akibat kehilangan kontak dengan batas-batas keselamatan.

Ketika kekerasan sudah menjadi sesuatu yang lumrah, anak-anak akan cenderung mereproduksi kekerasan itu dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan konflik dengan anak-anak mereka kelak, atau istri atau suami-suami mereka, atau ketika berada di tengah masyarakat.

Kedua, dalam waktu dekat, banyak anak-anak yang tidak bisa tidur, gelisah, dan bahkan benar-benar kehilangan nafsu untuk makan. Anak-anak bisa jadi sangat tenang, tetapi mereka juga bisa terlihat sangat stres. “Sekitar 250.000 orang mengungsi, dan sebagian besar dari mereka adalah anak-anak,” tegas Weibel.

Tidak hanya tekanan psikis, anak-anak Gaza yang besar di tengah perang juga kesulitan makanan dan akses kesehatan. Beberapa keluarga bahkan pergi meninggalkan rumah tanpa memiliki sikat gigi. Weibel menjabarkan, sekitar dua pertiga dari penduduk Gaza tidak memiliki akses ke jaringan air sehingga mereka tidak lagi memiliki air di rumah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Oleh sebab itu, solusi Unicef dan lembaga-lembaga lain adalah membawa air untuk dikelola sekolah-sekolah yang diinisiasi oleh PBB dan beberapa tempat lain, meski tidak mudah dijangkau karena situasi yang tidak memungkinkan.

Selain menyediakan kebutuhan dasar para penggungsi—dan terutama anak-anak Gaza yang besar di tengah perang, Unicef benar-benar meminta konflik ini segera dihentikan. Sebanyak 296 anak telah tewas, di mana dua pertiga dari 296 itu berusia di bawah 13 tahun, dan yang termuda adalah 3 bulan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.