Kompas.com - 15/07/2014, 13:44 WIB
EditorEgidius Patnistik
ABUJA, KOMPAS.COM — Aktivis HAM Pakistan, Malala Yousafzai, telah bertemu dengan Presiden Nigeria Goodluck Jonathan untuk memberikan tekanan dalam pembebasan sedikitnya 200 anak-anak perempuan yang ditahan oleh militan Islamis Boko Haram.

Pemerintahan Jonathan mendapatkan kritikan tajam karena tidak melakukan upaya keras untuk mengatasi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Boko Haram, terutama dalam masalah penculikan.

Malala bertemu Jonathan di ibu kota Nigeria, Abuja, dan meminta Presiden Nigeria itu bertemu dengan keluarga korban penculikan.

Dia bertemu dengan keluarga anak-anak perempuan yang diculik pada Minggu dan menunjukkan solidaritas untuk mereka.

Koresponden BBC di Nigeria, Tomi Oladipo, mengatakan sangat janggal presiden belum berbicara dengan keluarga korban, tiga bulan setelah penculikan.

Militer juga gagal untuk meminta keterangan dari sejumlah anak perempuan yang melarikan diri dari tahanan. Demikian jelas koresponden BBC.

Permintaan Malala

Namun, dalam pernyataan yang disampaikan setelah pertemuan dengan Malala, Presiden Jonathan mengatakan akan bertemu dengan orangtua para korban sebelum mereka meninggalkan Abuja "dan secara personal akan memberikan jaminan keamanan dan ketenteraman mereka", dan menyampaikan bahwa pemerintah melakukan segala upaya untuk menyelamatkan anak-anak mereka.

Anggapan bahwa Pemerintah Nigeria tidak melakukan upaya yang berarti untuk mencari dan menyelamatkan anak-anak perempuan itu "salah". Demikian jelas pernyataan tersebut.

"Teror relatif baru di sini dan sebuah tantangan untuk menghadapinya. Tantangan terbesar dalam menyelamatkan anak-anak perempuan Chibok adalah untuk memastikan mereka diselamatkan dalam kondisi hidup," kata Jonathan.

Setelah bertemu dengan orangtua korban, Malala mengatakan, dia memahami penderitaan mereka. "Sangat sulit sebagai orangtua untuk mengetahui bahwa anak-anak perempuan mereka dalam kondisi bahaya. Permintaan di ulang tahun saya tahun ini adalah... kembalikan anak-anak perempuan saya sekarang, dan hidup-hidup."

Dua tahun yang lalu, militan Taliban di Pakistan menembak kepala Malala karena berkampanye tentang pendidikan untuk anak-anak. Dia selamat setelah menjalani perawatan di Inggris.

Pemimpin militan mengulangi pernyataan mereka dalam sebuh video baru tentang persiapan untuk melakukan perundingan pertukaran tahanan. Dia juga menyampaikan dukungannya terhadap Abu Bakr al-Baghdadi, yang mendeklarasikan diri sebagai khalifah untuk negara baru Timur Tengah.

Boko Haram memicu kecaman global ketika melakukan penculikan terhadap ratusan siswi sekolah pada tiga bulan yang lalu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.