Kompas.com - 26/05/2014, 14:04 WIB
EditorEgidius Patnistik
BANGKOK, KOMPAS.COM - Pemimpin kudeta Thailand, Senin (26/5/2014), mengatakan bahwa raja negara itu sudah secara resmi mendukung dia untuk mengurus bangsa itu setelah angkatan bersenjata merebut kekuasaan pada pekan lalu. Pengumuman tersebut muncul sehari setelah junta memperingatkan para pengunjuk rasa bahwa militer siap melakukan tindakan tegas terhadap oposisi sipil terkait pengambilalihan kekuasaan itu.

Barbalut seragam militer warna putih, Jenderal Prayuth Chan-ocha berbicara pada awal konferensi pers pertamanya sejak kudeta pada Kamis. Dia membenarkan adanya kudeta. Ia mengatakan, ia harus bertindak setelah setengah tahun konfrontasi semakin meningkat antara pemerintahan sekarang, yang telah digulingkan, bersama para pendukungnya, dengan para demonstran yang didukung para pengusaha kuat yang berjuang untuk menggulingkan pemerintahan tersebut.

"Yang paling penting saat ini adalah menjaga perdamaian dan ketertiban di negara ini," kata Prayuth. "Ketika konflik meningkat, dan ada ancaman kekerasan, kami harus bertindak."

Suthep Thaugsuban, yang selama tujuh bulan memimpin protes dan telah ditahan junta sejak kudeta itu diumumkan Kamis lalu, meninggalkan pusat penahanan militer hari Senin dan kemudian muncul di kantor kejaksaan agung dikawal polisi dan tentara. Dia menghadapi tuduhan pemberontakan karena merebut sejumlah kantor kementerian pemerintah dan pelanggaran lainnya selama aksi protesnya.

Militer telah berusaha untuk membatasi protes dengan menahan tokoh-tokoh yang mungkin akan memainkan peran sebagai pemimpin. Junta membela penahanan mantan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra, sebagian besar anggota Kabinet pemerintah yang terguling, dan puluhan politisi dan aktivis.

Junta juga telah memerintahkan puluhan aktivis yang vokal, akademisi dan jurnalis untuk melapor kepada pihak berwenang militer. Lebih dari 200 orang, mayoritas dianggap sebagai penentang rezim baru, sejauh ini telah resmi dipanggil. Daftar orang-orang yang dipanggil itu disiarkan di radio dan TV.

Nasib Yingluck, yang menyerahkan diri Jumat, dan banyak orang lainnya masih belum jelas. Beberapa tahanan telah dibebaskan, dan pihak militer mengatakan mereka akan membebaskan sebagian besar dari mereka setelah sekitar satu minggu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.