Kompas.com - 25/05/2014, 19:43 WIB
Tentara Thailand berjaga di salah satu sudut kota Bangkok, setelah militer mengumumkan kudetanya pada Kamis (22/5/2014). MANAN VATSYAYANA / AFPTentara Thailand berjaga di salah satu sudut kota Bangkok, setelah militer mengumumkan kudetanya pada Kamis (22/5/2014).
EditorKistyarini

Di luar KBRI, aktivitas warga Bangkok terlihat normal. Beberapa ruas jalan padat kendaraan dan macet. Pusat perbelanjaan tetap dikunjungi warga meski tidak seramai hari-hari biasa.

Di sejumlah titik, aktivis tetap menggelar unjuk rasa menentang kudeta. Padahal, Dewan Pemelihara Ketertiban dan Perdamaian Nasional (NPOMC) yang dipimpin Panglima Angkatan Darat Jenderal Prayuth Chan-ocha telah melarang berkumpulnya lebih dari lima orang dengan tujuan politik.

Unjuk rasa dilakukan di ruang publik, seperti stasiun monorel. Unjuk rasa lain dilaporkan terjadi di Monumen Kemenangan. Dari teriakan mereka, tema yang diusung sama, yakni menentang kudeta.

Pengamatan Kompas di Stasiun Stadion Nasional, aktivis meneriakkan ”No coup! No coup! No coup!”. Pengunjuk rasa terlibat saling dorong dengan sejumlah tentara tak bersenjata. Melihat hal itu, sebagian warga malah mendekat. Mereka mengajak berfoto dengan tentara.

Tangguhkan bantuan

Langkah militer Thailand untuk kembali merebut kekuasaan memicu kecaman internasional. Amerika Serikat, sekutu dekat negara itu, langsung mengambil langkah konkret. Washington menangguhkan bantuan militer bagi Thailand dengan membekukan 3,5 juta dollar AS dari total bantuan 10,5 juta dollar AS.

AS juga meminta militer segera memulihkan kekuasaan pemerintah sipil. Departemen Luar Negeri AS mengatakan, Washington tengah mempertimbangkan sanksi lanjutan, yakni pemotongan bantuan lebih besar lagi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain AS, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Eropa, dan Jepang juga menyatakan prihatin dengan situasi Thailand. AS dan Jepang adalah sumber investasi asing utama bagi negeri itu.

Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan, London meminta militer Thailand menetapkan jadwal pemilu yang jelas secepatnya guna membangun kembali pemerintahan demokratis.

Komisioner Tinggi HAM PBB Navi Pillay mendesak Thailand memastikan penghormatan HAM dan pemulihan yang cepat atas aturan hukum. Kelompok HAM, termasuk Human Rights Watch dan Amnesty International, juga mengkritik penahanan para pemimpin politik.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.