Thailand Umumkan Darurat Militer untuk Atasi Kerusuhan

Kompas.com - 20/05/2014, 10:47 WIB
Yingluck Shinawatra, yang baru saja dimakzulkan dari jabatannya sebagai perdana menteri Thailand, disambut meriah pendukungnya di pinggiran kota Bangkok, Rabu (7/5/2014). PORNCHAI KITTIWONGSAKUL / AFPYingluck Shinawatra, yang baru saja dimakzulkan dari jabatannya sebagai perdana menteri Thailand, disambut meriah pendukungnya di pinggiran kota Bangkok, Rabu (7/5/2014).
EditorEgidius Patnistik
BANGKOK, KOMPAS.COM - Angkatan Bersenjata Thailand mengumumkan kondisi darurat militer di seluruh kerajaan yang terbelah itu, Selasa (20/5/2014), demi memulihkan ketertiban setelah berbulan-bulan protes anti-pemerintah yang mematikan. Militer mengerahkan pasukan bersenjata di ibukota Bangkok tetapi menegaskan bahwa langkah itu "bukan sebuah kudeta".

Tentara-tentaa yang menyandang senjata, didukung kendaraan militer yang dilengkapi senapan mesin, terlihat di jantung ritail dan kawasan hotel Bangkok. Tentara juga ditempatkan di stasiun-stasiun  televisi dan militer mengatakan, media akan disensor.

Pemecatan Perdana Menteri (PM) Yingluck Shinawatra awal bulan ini, dalam sebuah keputusan pengadilan yang kontroversial, telah menimbulkan ketegangan yang melonjak di kerajaan itu, yang bertahun-tahun telah mengalami kekacauan politik. Massa "Kaus Merah" yang merupakan pendukung Yingluck dan saudara laki-lakinya Thaksin Shinawatra, yang digulingkan dari kursi perdana menteri dalam kudeta tahun 2006, telah memperingatkan ancaman perang saudara jika kekuasaan diserahkan kepada pemimpin yang tidak dipilih melalui proses pemilu, sebagaimana tuntutan kaum oposisi.

Thailand, negara perekonomian terbesar kedua di Asia Tenggara dan sekutu utama AS, sudah tidak punya pemerintah yang berfungsi efektif sejak Desember lalu. Keadaan itu telah mengganggu belanja pemerintah, membuat takut para investor dan menghalangi wisatawan asing.

Negara itu kini menghadapi resesi, berdasarkan angka pertumbuhan terbaru yang dikeluarkan minggu ini, dan Jepang, yang beberapa perusahaannya punya investasi asing terbesar di Thailand, telah mengungkapkan keprihatinannya atas krisis yang berlangsung itu. "Kami memiliki keprihatinan serius terhadap situasi di Thailand," kata Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, kepada wartawan di Tokyo. "Kami sekali lagi mendesak semua pihak untuk menahan diri dan tidak menggunakan kekerasan."

Pemimpin massa Kaus Merah di Bangkok mengatakan, tentara telah mengepung mereka, dan pemerintah mengatakan militer sedang berusaha untuk meyakinkan mereka agar  membubarkan diri.

"Kami telah dikepung oleh pasukan di semua sisi," kata pemimpin pengunjuk rasa, Jatuporn Prompan, kepada kantor berita AFP.

Sebuah pengumuman di televisi dikelola militer mengatakan, darurat militer  diterapkan "demi memulihkan perdamaian dan menertibkan orang-orang dari semua sisi" setelah tujuh bulan protes yang telah menyebakan 28 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. "Ini bukan sebuah kudeta," kata pengumuman itu. "Masyarakat tidak perlu panik, mereka masih bisa menjalani hidupnya seperti biasa."

Meskipun ada jaminan militer itu, kecemasan bahwa pengambilalihan oleh militer sedang berlangsung dipicu oleh kehadiran tentara dan perintah Panglima Militer Jenderal Prayut Chan-O-Chaan bahwa media akan disensor demi kepentingan "keamanan nasional".

Pemerintah negara itu mengaku tidak diajak bicara mengenai penerapan darurat militer tersebut. Paradorn Pattanatabut, penasehat keamanan bagi Perdana Menteri yang baru Niwattumrong Boonsongpaisan menegaskan hal itu. "Pemerintah sementara masih ada dengan Niwattumrong sebagai perdana menteri sementara. Semuanya normal kecuali bahwa militer bertanggung jawab untuk semua masalah keamanan nasional," katanya.

Seorang pembantu dekat perdana menteri mengatakan, mereka sedang mengadakan "pertemuan kabinet mini saat ini di sebuah rumah aman" dan akan membuat pengumuman resmi pada hari ini juga.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Manajer Sidang Pemakzulan: Trump Menipu guna Menangi Pilpres AS 2020

Manajer Sidang Pemakzulan: Trump Menipu guna Menangi Pilpres AS 2020

Internasional
Pemakzulan Trump: Demokrat Tolak Tawaran 'Pertukaran Saksi'

Pemakzulan Trump: Demokrat Tolak Tawaran "Pertukaran Saksi"

Internasional
Tak Sengaja Berikan Kunci Mobil Saat Kampanye, Politisi Peru Ini Minta Bantuan Netizen

Tak Sengaja Berikan Kunci Mobil Saat Kampanye, Politisi Peru Ini Minta Bantuan Netizen

Internasional
Berkunjung ke Gereja di Yerusalem, Presiden Perancis Berteriak ke Keamanan Israel

Berkunjung ke Gereja di Yerusalem, Presiden Perancis Berteriak ke Keamanan Israel

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Kesaksian Pengantin Pesanan China | Gadis di Gresik Tulis Surat ke PM Australia

[POPULER INTERNASIONAL] Kesaksian Pengantin Pesanan China | Gadis di Gresik Tulis Surat ke PM Australia

Internasional
Ibu di India Ini Jual Rambut Rp 28.000 demi Beri Makan 3 Anaknya

Ibu di India Ini Jual Rambut Rp 28.000 demi Beri Makan 3 Anaknya

Internasional
Berhubungan Seks Saat Jam Kerja, Polisi di New York Ini Dipindahtugaskan

Berhubungan Seks Saat Jam Kerja, Polisi di New York Ini Dipindahtugaskan

Internasional
Korban Meninggal Virus Corona di China Bertambah Jadi 9 Orang, Disebut Bisa Bermutasi

Korban Meninggal Virus Corona di China Bertambah Jadi 9 Orang, Disebut Bisa Bermutasi

Internasional
Debat Lebih dari 12 Jam, Senat AS Setujui Aturan Sidang Pemakzulan Trump

Debat Lebih dari 12 Jam, Senat AS Setujui Aturan Sidang Pemakzulan Trump

Internasional
Pengakuan Pengantin Pesanan di China: 2 Kali Menikah, Sering Dipukuli

Pengakuan Pengantin Pesanan di China: 2 Kali Menikah, Sering Dipukuli

Internasional
Putra Mahkota MBS Dituding Retas Ponsel Jeff Bezos, Arab Saudi Beri Jawaban

Putra Mahkota MBS Dituding Retas Ponsel Jeff Bezos, Arab Saudi Beri Jawaban

Internasional
Permalukan Orang Pakai Piyama di Jalan, Kota di China Meminta Maaf

Permalukan Orang Pakai Piyama di Jalan, Kota di China Meminta Maaf

Internasional
Putra Mahkota Arab Saudi Disebut Retas Ponsel Orang Terkaya Dunia pada 2018

Putra Mahkota Arab Saudi Disebut Retas Ponsel Orang Terkaya Dunia pada 2018

Internasional
Kisah Pengantin Pesanan China: Anak Saya Diejek Anak Pelacur

Kisah Pengantin Pesanan China: Anak Saya Diejek Anak Pelacur

Internasional
Keluarga Editor Mongabay Philip Jacobson yang Ditahan di Indonesia Sudah Diberi Tahu

Keluarga Editor Mongabay Philip Jacobson yang Ditahan di Indonesia Sudah Diberi Tahu

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X