304 Orang Tewas dan Hilang, Kapten Kapal Tenggelam di Korsel Terancam Hukuman Mati

Kompas.com - 15/05/2014, 16:11 WIB
Seorang keluarga penumpang kapal Sewol, feri yang tenggelam di Korea Selatan pada Rabu (16/4/2014), duduk di tepi pantai di Pelabuhan Jindo, Rabu (23/4/2014). Harapan untuk menemukan lagi korban selamat semakin menepis.  AFP PHOTO/ Nicolas ASFOURISeorang keluarga penumpang kapal Sewol, feri yang tenggelam di Korea Selatan pada Rabu (16/4/2014), duduk di tepi pantai di Pelabuhan Jindo, Rabu (23/4/2014). Harapan untuk menemukan lagi korban selamat semakin menepis.
EditorPalupi Annisa Auliani

SEOUL, KOMPAS.com -- Jaksa di Korea Selatan, Kamis (15/5/2014), mendakwa kapten dan tiga awak kapal Sewol dengan tuduhan pembunuhan, yang memberikan ancaman hukuman mati. Kapal ini tenggelam pada Rabu (16/4/2014) menewaskan 284 orang dan 20 orang masih hilang. Saat tenggelam ada 476 orang di atas kapal.

Jaksa mendakwa kapten dan awak kapal gagal menyelamatkan lebih dari 304 orang yang tewas dan hilang dalam kecelakaan itu. Adapun 11 awak yang lain dikenakan tuduhan yang lebih ringan, dengan delik kelalaian terkait navigasi kapal.

Tiga orang yang terkena tuduhan pembunuhan ini adalah Kapten Lee Joon-seok, Perwira Pertama, Perwira Kedua, dan Chief Engineer Kapal Sewol. Bila dakwaan jaksa dinyatakan terbukti di persidangan, mereka berempat terancam hukuman mati, sekalipun di Korea Selatan belum ada lagi putusan hukuman mati sejak 1997.

Sementara itu, 11 awak kapal lain dikenakan tuduhan kelalaian navigasi dan meninggalkan penumpang yang butuh pertolongan ketika kapal tenggelam. Surat dakwaan diajukan melalui Pengadilan Negeri Gwangju, Kamis, dan persidangan pertama akan segera dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan.

Petugas pengadilan yang mensyaratkan anonimitas mengatakan, 15 terdakwa diperkirakan akan diajukan dalam satu berkas perkara di persidangan. Berdasarkan dokumentasi dan informasi dari para korban selamat, 15 orang terdakwa ini termasuk dalam rombongan pertama yang menyelamatkan diri dari kapal dan segera ditangkap pada hari-hari pertama setelah kapal tenggelam.

Saat kapal mulai miring, Lee membuat pengumuman meminta para penumpang untuk tetap berada di tempat masing-masing. Setengah jam setelah pengumuman itu, dia baru mengeluarkan perintah evakuasi, tetapi tak dapat dipastikan apakah perintah itu sampai kepada para penumpang.

Dalam video yang diambil petugas penjaga pantai, Lee terlihat menyelamatkan diri hanya dengan mengenakan baju dalam, saat banyak penumpang masih berada di dalam kapal yang dengan cepat tenggelam tersebut.

Kepada wartawan setelah ditangkap, Lee mengatakan, dia tak segera mengeluarkan perintah evakuasi dengan alasan tim penyelamat belum tiba dan ia mengaku mengkhawatirkan keselamatan penumpang bila harus terjun ke air yang dingin dan berarus deras.

Direktur utama dan empat karyawan Chonghaejin Marine Co Ltd, perusahaan operator kapal Sewol, juga telah ditangkap terkait insiden ini. Otoritas setempat menduga ada penyimpangan dan kelebihan kargo yang berkontribusi atas kecelakaan ini.

Dari 476 penumpang, hanya 172 orang yang selamat, termasuk 22 dari 29 awak kapal. Sebagian besar korban kecelakaan ini adalah siswa sekolah di dekat Seoul yang sedang dalam perjalanan menuju pulau wisata di selatan Jeju.

Upaya pencarian korban terhambat oleh derasnya arus di perairan tersebut dan cuaca buruk. Sampai hari ini, keluarga para korban masih berkemah di pelabuhan. Proses pencarian juga memakan korban jiwa satu penyelam sipil.

Tenggelamnya kapal ini merupakan kecelakaan paling mematikan dalam sejarah modern Korea Selatan. Lebih dari 1,8 juta orang telah memberikan penghormatan terakhir kepada para korban di posko perkabungan di seantero Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan pun menuai hujan kritik atas penanganan musibah ini, hingga mendorong pengunduran diri perdana menterinya.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X