Kompas.com - 06/05/2014, 15:00 WIB
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un memberikan suaranya dalam pemilihan umum yang digelar Minggu (9/3/2014). Kim mewakili daerah pemilihan 111, Gunung Paektu dan seluruh warga di kawasan itu memilih dia. KCNA / AFPPemimpin Korea Utara, Kim Jong Un memberikan suaranya dalam pemilihan umum yang digelar Minggu (9/3/2014). Kim mewakili daerah pemilihan 111, Gunung Paektu dan seluruh warga di kawasan itu memilih dia.
EditorEgidius Patnistik
TOKYO, KOMPAS.com — Kurangnya kepercayaan Beijing terhadap kekuasaan Kim Jong Un terlihat dalam rencana darurat untuk menahan sejumlah pemimpin utama Korea Utara, mendirikan kamp-kamp pengungsi di perbatasan, dan merespons "kekuatan asing".

Tiongkok telah menyusun sejumlah rencana darurat rinci untuk menghadapi kemungkinan runtuhnya Pemerintah Korea Utara. Hal itu menunjukkan bahwa Beijing hanya memiliki sedikit kepercayaan bahwa rezim Kim Jong Un akan berumur panjang.

Sejumlah dokumen yang dibuat para perencana dari Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok, yang kemudian bocor ke media Jepang, mencakup sejumlah usulan penahanan para pemimpin kunci Korea Utara dan pembangunan kamp-kamp pengungsi di sisi perbatasan Tiongkok jika terjadi kerusuhan sipil di negara tertutup itu.

Laporan itu menyerukan peningkatan pemantauan perbatasan sepanjang 879 mil (1.414,6 km) antara Tiongkok dan Korea Utara.

Menurut dokumen itu, semua pemimpin militer atau politik senior Korea Utara yang bisa menjadi target dari faksi yang bertikai atau "kekuatan militer lain," yang dianggap sebagai rujukan ke Amerika Serikat, harus diberikan perlindungan.

Menurut Kyodo News, dalam laporan Tiongkok itu, para pemimpin penting Korea Utara harus ditahan di kamp-kamp khusus sehingga mereka dapat dipantau. Namun, mereka juga harus dicegah untuk mengarahkan operasi militer lanjutan atau ambil bagian dalam tindakan yang dapat merusak kepentingan nasional Tiongkok.

Laporan tersebut menyatakan, "kekuatan-kekuatan asing" dapat terlibat dalam sebuah insiden yang menyebabkan runtuhnya kontrol internal di Korea Utara, yang mengakibatkan jutaan pengungsi mencoba untuk melarikan diri. Satu-satunya rute keselamatan yang dimiliki sebagian besar penduduk adalah melintasi perbatasan ke Tiongkok.

Pihak berwenang Tiongkok berniat untuk menanyai para pendatang baru itu, menentukan identitas mereka, dan menolak setiap orang yang dianggap berbahaya atau tidak diinginkan.

"Hal ini hanya menggarisbawahi bahwa semua negara yang punya kepentingan dalam menjaga stabilitas Asia timur laut perlu berbicara satu sama lain," kata Jun Okumura, seorang dosen tamu di Meiji Institute for Global Affairs, kepada The Telegraph, Senin (5/5/2014).

"Apa yang telah kita tahu dari runtuhnya kediktatoran lain—Uni Soviet dan Moammar Khadafy di Libya—adalah bahwa semakin totaliter sebuah rezim, semakin keras dan cepat mereka jatuh," tambahnya. "Inilah sebabnya kita perlu rencana darurat dan saya yakin bahwa AS dan Korea Selatan punya rencana besar untuk ini, tetapi bocornya langkah-langkah Tiongkok merupakan hal baru," katanya.

Terbitnya laporan itu hanya beberapa hari setelah Beijing mengeluarkan peringatan terselubung ke Pyongyang, menjelang uji coba nuklir keempat yang telah diantisipasi, bahwa Tiongkok "tidak mengizinkan perang atau kekacauan terjadi di depan rumah kami."Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.