Kompas.com - 22/04/2014, 14:45 WIB
EditorErvan Hardoko
KATHMANDU, KOMPAS.com - Ketegangan memuncak di base camp Gunung Everest, Selasa (22/4/2014), setelah puluhan pendaki dari seluruh dunia kecewa karena para sherpa atau pemandu pendakian melakukan aksi mogok kerja.

Pada Jumat pekan lalu, 13 orang sherpa tewas dan tiga lainnya masih hilang setelah mereka tersapu longsoran salju dalam sebuah insiden paling mematikan di gunung berketinggian 8.848 meter itu.

Sejak insiden itu, para sherpa meminta agar pendakian ditunda sementara untuk menghormati rekan-rekan mereka yang tewas.

Mereka juga mengancam untuk membatalkan semua rencana pendakian mulai bulan ini kecuali pemerintah Nepal merevisi batas asuransi dan merancang sebuah dana kesejahteraan para sherpa.

Ed Marzac (67), seorang pensiunan pengacara yang berencana menjadi warga AS tertua yang mendaki Everest, mengatakan dia memutuskan untuk membatalkan rencananya setelah kehilangan salah satu pemandunya.

Marzec mengatakan, suasana antara para pendaki dan para pemandu sangat kaku, bahkan saat upacara mengenang korban tewas digelar.

"Kondisi semakin buruk dan banyak pendaki muda yang mencoba meyakinkan orang-orang untuk memaksa para sherpa agar tidak membatalkan pendakian," ujar Marzec.

Sementara itu, para sherpa memberi batas waktu kepada pemerintah hingga Senin pekan depan untuk memenuhi tuntutan mereka.

Mereka menuntut pemerintah membayar santunan 10.000 dolar AS untuk keluarga para sherpa yang tewas, cedera dan tak mampu lagi bekerja akibat insiden longsor itu.

Para Sherpa juga meminta pemerintah untuk membayar biaya pengobatan rekan-rekan mereka yang terluka dan saat ini masih terbaring di rumah sakit.

Dalam satu musim pendakian, seorang sherpa mendapatkan penghasilan antara 3.000-6.000 dolar AS. Namun, jika terjadi kecelakaan, jumlah uang asuransi yang mereka dapatkan sangat kecil.

Lebih dari 300 orang tewas, sebagian besar adalah para sherpa, sejak puncak Everest pertama kali ditaklukkan Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay pada 1953.

Hubungan antara para sherpa dan pendaki khususnya dari negara-negara Barat memburuk sejak tiga warga Eropa terlibat perkelahian dengan sekelompok sherpa tahun lalu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.