Kompas.com - 10/04/2014, 20:25 WIB
EditorErvan Hardoko
BERN, KOMPAS.com - Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Bern, Swiss membantah telah melarang seorang wartawan Indonesia yang menetap di negeri itu untuk meliput jalannya pemungutan suara yang digelar di kantor KBRI Bern, pada 5 April 2014.

Lewat surat elektronik yang diterima redaksi Kompas.com pada Kamis (10/4/2014), PPLN Bern menjelaskan bahwa menjelang pemungutan suara digelar pihak PPLN hanya menerima satu permohonan peliputan atas nama Krisna Diantha.

Dalam surat elektronik untuk PPLN itu, Krisna mengaku sebagai kontributor sebuah harian yang terbit di Indonesia. Sayangnya, menurut PPLN, Krisna menyertakan kartu identitas wartawan yang sudah habis masa berlakunya.

"Sdr.Krisna menyertakan kartu identitas wartawan yang telah habis masa berlakunya," demikian penjelasan PPLN Bern.

PPLN Bern melanjutkan, sesuai peraturan KPU No. 28/2013, pihaknya memberikan ruang bagi pemantau, saksi, dan pengawas untuk menyaksikan dan mendokumentasikan jalannya pemungutan suara.

Sehingga, kehadiran media massa malah akan mendukung transparansi seluruh proses pemilu khususnya pemungutan suara yang digerar di Bern, Swiss ini. "Bahkan, Saudara Krisna Diantha telah mengunggah liputan pemilu di TPS Bern pada 5 April 2014 ke situs YouTube," masih penjelasan PPLN.

Sementara itu, kepada Kompas.com, Krisna Diantha menegaskan, dia mengirimkan identitas jurnalisnya ke PPLN dan hingga menjelang pemungutan suara dilaksanakan, Krisna tidak mendapatkan kabar apapun terkait adanya masalah dengan kartu identitas jurnalisnya.

"Namun pada saat saya akan meliput proses pemungutan suara, saya sudah tak diizinkan masuk," kata Krisna.

Krisna menambahkan, jika masa berlaku kartu pers miliknya yang sudah habis masa berlakunya maka seharusnya pihak PPLN memberitahu terlebih dahulu.

"Saya tercatat sebagai wartawan di Syndicom Swiss. Syndicom itu semacam organisasi wartawan di Swiss," tambah Krisna.

Kartu anggota Syndicom itu, lanjut Krisnya, sudah sering digunakannya meliput ke berbagai ajang di Swiss maupun di negara lain di Eropa.

"Bahkan kartu pers (Syndicom) ini diterima untuk peliputan di FIFA, UEFA dan lembaga internasional lain di Eropa yang aturannya jauh lebih ketat," lanjut Krisna.

Sebelumnya sempat diberitakan seorang kontributor sebuah harian terbitan Jakarta, mengeluh karena dilarang meliput proses jalannya pemungutan suara di PPLN Bern, Swiss tanpa alasan yang jelas.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.