PBB Kecewa, Myanmar Tak Sensus Warga Rohingya

Kompas.com - 01/04/2014, 22:25 WIB
Pengungsi Rohingya hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan karena sejumlah negara menolak keberadaan mereka. CHRISTOPHE ARCHAMBAULT / AFPPengungsi Rohingya hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan karena sejumlah negara menolak keberadaan mereka.
EditorErvan Hardoko
YANGON, KOMPAS.com - Badan urusan Populasi PBB (UNFPA), Selasa (1/4/2014), menyatakan keprihatinannya atas keputusan pemerintah Myanmar yang melarang warga Muslim menyebut diri mereka sebagai Rohingya dalam sensus penduduk pertama negeri itu.

Padahal sebelumnya, pemerintah Myanmar mengatakan sensus yang akan digelar itu sesuai dengan standar internasional dan memperbolehkan warga negeri itu mengungkapkan etnis asal mereka.

Namun, keputusan pemerintah Myanmar berubah hanya sehari menjelang sensus itu digelar pada Minggu (30/3/2014). Saat itulah, pemerintah Myanmar mengatakan bahwa etnis "Rohingya" tidak akan diterima para petugas sensus.

Langkah ini menyusul kerusuhan terbaru di negara bagian Rakhine ketika para nasionalis Budha menolak dimasukkannya etnis Rohingya dalam sensus, karena khawatir akan memberikan hak politik bagi etnis Rohingya.

"UNFPA sangat prihatin dengan melencengnya sensus ini dari standar internasional, prinsip-prinsip HAM dan prosedur yang sudah disepakati," demikian pernyataan UNFPA.

Sementara itu di kamp pengungsi di dekat ibu kota Rakhine, Sittwe, yang dihuni 140.000 orang yang kabur dari kerusuhan sektarian dua tahun lalu, para petugas sensus tidak mengambil data terkait warga etnis Rohingya.

Jurnalis AFP menyaksikan para petugas sensus yang dijaga polisi dan tentara itu akan menanyakan identitas etnis seseorang. Dan jika orang itu menjawab "Rohingya" maka petugas sensus akan melewatinya begitu saja.

Sesnsu ini adalah yang pertama sejak 1983 dan digelar untuk menanggulangi minimnya data terkait populasi negeri itu.

UNFPA sudah memberikan bantuan teknis selama 18 bulan masa persiapan, termasuk merancang kuesioner, pengolahan data dan pemetaan negeri.

Sebanyak sembilan negara, antara lain Australia, Jerman, Norwegia dan Inggris, memberikan bantuan dengan total sebesar 45 juta dolar AS untuk persiapan sensus ini.

Sebanyak 5 juta dolar lainnya disumbangkan UNFPA sementara pemeirntah Myanmar mengeluarkan dana sebesar 15 juta dolar AS.



Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X