Kompas.com - 11/03/2014, 14:57 WIB
EditorEgidius Patnistik
Para ilmuwan berpendapat, munculnya Genghis Khan dan kekaisaran besar Mongolia pada awal abad ke-13 sedikit banyak dipengaruhi faktor cuaca yang baik.

Para peneliti dari Amerika Serikat mempelajari lingkaran pohon kuno di tengah kota Mongolia dan mengatakan bahwa kemunculannya bertepatan dengan musim terbasah dalam kurun waktu lebih dari 1.000 tahun.

Rumput yang tumbuh dengan cepat tersedia untuk makanan ternaknya, yaitu kuda perang.

Genghis Khan menyatukan suku-suku Mongol untuk menyerang dan menguasai daerah yang luas, meliputi Korea, China, Rusia, Eropa Timur, India, dan Asia Tenggara.

Pemimpin karismatik

Hasil penelitian menunjukkan, pada tahun sebelum Genghis Khan berkuasa ditandai dengan bencana kekeringan dari tahun 1180-1190, kata sebuah studi di Proceedings National Academy of Sciences.

Tetapi, seiring dengan diperluasnya kekaisaran ini dari tahun 1211-1225, Mongolia mengalami curah hujan yang teratur dan suhu yang sejuk.

"Peralihan dari kekeringan yang ekstrem ke kelembaban ekstrem itulah yang kemudian menunjukkan bahwa iklim memainkan peran dalam kehidupan manusia," kata penulis dan ilmuwan lingkaran pohon dari Universitas Virginia Barat Amy Hessl kepada kantor berita AFP.

"Tetapi, ini bukanlah hal satu-satunya, pemimpin karismatik harus bisa menciptakan kondisi yang ideal untuk bisa keluar dari kekacauan, memperkuat pasukan, dan memusatkan kekuasaan.

"Di tempat yang tandus, munculnya cairan yang tidak biasa mendorong produktivitas tanaman yang tidak biasa pula. Dan, hal ini pada akhirnya menjadi tenaga kuda. Genghis mampu memanfaatkan fenomena itu."

Bersahabat dengan cuaca yang baik membuat Genghis Khan mampu menyatukan suku-suku yang berbeda dan dengan cepat dapat menaklukkan negara tetangganya.

Sebagai contoh penelitian, Hessl dan penulis utama Neil Pederson, seorang ilmuwan lingkaran pohon di Columbia University Lamont-Doherty Earth Observatory, memusatkan perhatian pada kelompok pohon pinus Siberia yang ditemukan saat meneliti kebakaran hutan di Mongolia.

Pohon-pohon itu tumbuh dari retakan di lava gunung Khangai Mountains, menurut sebuah pernyataan dari Columbia.

Pohon yang hidup dalam kondisi seperti itu tumbuh lebih lambat dan sangat sensitif terhadap perubahan cuaca, dan hasilnya memberikan banyak data untuk belajar, kata para ilmuwan.

Beberapa pohon tersebut telah tumbuh selama lebih dari 1.100 tahun. Kata para ahli, sepotong kayu yang mereka temukan berasal dari tahun 650 sebelum Masehi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.