Mantan Kanselir Jerman Sebut Kebijakan Uni Eropa di Ukraina Keliru

Kompas.com - 10/03/2014, 08:38 WIB
Iring-iringan kendaraan lapis baja yang diduga adalah milik Rusia, memasuki wilayah Semenanjung Crimea. RIA NovostiIring-iringan kendaraan lapis baja yang diduga adalah milik Rusia, memasuki wilayah Semenanjung Crimea.
|
EditorPalupi Annisa Auliani
BERLIN, KOMPAS.com - Mantan kanselir Jerman Gerhard Schroder, berpendapat kebijakan Uni Eropa atas Ukraina adalah keliru. Bila sampai ada sanksi dijatuhkan untuk Rusia terkait intervensinya ke Ukraina, Schroder mengingatkan justru Jerman yang bakal mendapat kerugian lebih besar.

Schroder menyampaikan hal itu dalam acara media internasional yang digelar di Jerman, Minggu (9/3/2014). Kebijakan yang keliru tersebut, ujar dia, adalah menempatkan Ukraina yang memang terpecah secara budaya dalam situasi yang memaksakan penyatuan dengan Uni Eropa.

Menurut Schroder, lebih masuk akal bila membiarkan Ukraina tetap menjalin mitra baik dengan Uni Eropa maupun Rusia. Karenanya, Schroder mendukung upaya penenerusnya Kanselir Angela Merkel dan Menteri Luar Negeri Frank-Walter Steinmeier untuk mewujudkan pembicaraan lanjutan dengan Rusia.

Schroder disebut-sebut punya hubungan erat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Namun, dia mengatakan belum membahas konflik Ukraina ini dengan Putin. Sementara itu, Rusia pada Sabtu (8/3/2014) menyatakan bersedia melanjutkan dialog dengan Pemerintah Ukraina, saat negara-negara Barat sibuk membangun persekutuan untuk menghadapi Rusia dan mengancam penjatuhan sanksi.

Dari Moskwa, Rusia, layanan pers Kremlin mengatakan bahwa pmeimpin Rusia, Inggris, dan Jerman telah menyampaikan keinginan bersama untuk meredakan ketegangan di Ukraina kendati ada perbedaan pendapat.

"(Presiden Rusia Vladimir) Putin, (Perdana Menteri Inggris David) Cameron dan (Kanselir Jerman Angela) Merkel melanjutkan pembahasan mengenai situasi sosial-politik yang sangat rumit di Ukraina serta referendum di Crimea yang dijadwalkan diadakan pada 16 Maret 2014," ujar pernyataan itu.

"Semua pihak menyampaikan kepentingan bersama mereka untuk secepat mungkin meredakan ketegangan dan mengembalikan situasi normal," lanjut pernyataan tersebut.

Namun, pernyataan yang sama mengatakan bahwa langkah yang berlangsung di Crimea sekarang memiliki landasan hukum internasional dan bertujuan melindungi kepentingan penduduk Crimea.

Putin, kata pernyataan Kremlin itu, mengatakan Pemerintah Ukraina tak berbuat apapun untuk mencegah kemarahan kaum ultra-nasionalis dan radikal yang bergerak di Kiev dan wilayah lain.

Sebelumnya, parlemen Crimea telah menggelar pemungutan suara untuk bergabung dengan Rusia sebagai satu badan federal, dan memutuskan menyelenggarakan referendum pada 16 Maret 2014 untuk menentukan masa depan wilayah semenanjung ini.

Baca tentang


Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X