Kompas.com - 06/03/2014, 08:51 WIB
EditorEgidius Patnistik
BEIJING, KOMPAS.COM — Sekelompok orang dari Xinjiang, China barat, yang melakukan serangan brutal di Stasiun Kereta Api Kunming, Provinsi Yunnan, China barat daya, pekan lalu, melakukan serangan itu karena putus asa setelah gagal meninggalkan negara itu untuk melakukan ”jihad”. Demikian diungkapkan media Pemerintah China, Rabu (5/3/2014).

Pihak berwajib China menyatakan, para militan dari Xinjiang, tempat tinggal kelompok etnis minoritas Uighur, melancarkan serangan yang menewaskan sedikitnya 29 orang dan mencederai sekitar 140 orang.

Polisi menembak mati empat penyerang dan menangkap empat lainnya. Baik Beijing maupun Washington telah menyebut serangan di Kunming itu sebagai serangan terorisme.

Media pemerintah, termasuk kantor berita Xinhua, mengutip Qin Guangrong, Ketua Partai Komunis China di Provinsi Yunnan, menyatakan, delapan penyerang itu semula ingin berpartisipasi dalam ”jihad”.

”Mereka tidak bisa pergi dari Yunnan sehingga mereka mencari tempat lain dan pergi ke Provinsi Guangdong,” kata Qin. Guangdong adalah provinsi di China yang berbatasan dengan Hongkong.

Dari Guangdong, mereka ternyata juga tidak bisa keluar sehingga kembali ke Yunnan.

Mereka kemudian pergi ke Honghe di Yunnan yang berbatasan dengan Vietnam. Di situ mereka merencanakan, jika tidak bisa meninggalkan China dari sana, mereka akan ”berjihad” di Honghe atau di sebuah stasiun kereta api atau terminal bus di Kunming.

Qin mengatakan bahwa ”beberapa orang” yang melakukan kontak dengan delapan penyerang itu juga ditahan walau dia tak memberikan rincian.

Dia mengatakan ini hari Selasa saat memberikan taklimat kepada delegasi provinsi menjelang pembukaan sidang tahunan parlemen di Beijing. Qin tak menjelaskan mengenai apa yang ia maksudkan dengan ”jihad”.

Melintasi perbatasan

Komentar Qin itu mempunyai beberapa persamaan dengan sebuah laporan terdahulu dari Radio Free Asia (RFA). RFA mengutip beberapa sumber yang mengatakan, kedelapan penyerang itu bepergian dari Xinjiang ke Yunnan dengan tujuan melintasi perbatasan ke Laos dalam perjalanan mereka mencari perlindungan di tempat lain.

Sumber-sumber RFA menyebutkan, delapan penyerang itu kemungkinan adalah orang Uighur yang melarikan diri dari represi polisi di Prefektur Hotan, Xinjiang.

Para sumber yang tidak dijelaskan identitasnya itu mengatakan, mereka mungkin menghentikan upaya untuk keluar dari China setelah sekitar 30 orang Uighur lain ditahan di perbatasan, September tahun lalu.

Sementara itu, seorang tokoh pemimpin Uighur di pengasingan mengatakan, Selasa, pihak berwenang China kemungkinan akan makin menekan pembangkangan di Xinjiang setelah peristiwa Kunming itu.

Rebiya Kadeer, Ketua Kongres Uighur Dunia (WUC), mengatakan, dia khawatir Beijing merencanakan tindakan lebih keras pada kawasan itu dan mengimbau warga Uighur tetap tenang.

”(Beijing) tak pernah mengatakan, ’Kami akan menyidik akar penyebab masalah dan kami akan mengatasinya (melalui) dialog damai’,” kata Kadeer yang menduga serangan itu merupakan tindakan putus asa. (Reuters/AP/AFP/DI)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.