Kompas.com - 23/02/2014, 01:47 WIB
Ribuan orang melakukan unjuk rasa antipengawasan internet di Lapangan Taksim, Istanbul, Sabtu (22/2/2014) menyusul berlakunya undang-undang pengawasan internet yang kontroversial. ADEM ALTAN / AFPRibuan orang melakukan unjuk rasa antipengawasan internet di Lapangan Taksim, Istanbul, Sabtu (22/2/2014) menyusul berlakunya undang-undang pengawasan internet yang kontroversial.
EditorErvan Hardoko
ISTANBUL, KOMPAS.com - Polisi antihuru-hara Turki menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air unruk membubarkan sekitar 3.000-an orang yang memprotes keputusan pemerintah memperketat pengawasan terhadap internet di Istanbul, Sabtu (22/2/2014).

Polisi berupaya untuk membubarkan pengunjuk rasa dari Lapangan Taksim yang biasa dijadikan lokasi unjuk rasa warga.

Dihalau dengan gas air mata, para pengunjuk rasa tak tinggal diam. Mereka membalas dengan menembakkan kembang api ke arah polisi yang kemudian menahan puluhan orang.

"Pemerintah turun! Jangan sentuh internet kami," demikian teriakan para pengunjuk rasa.

"Semua tempat adalah Taksim, semua tempat ada perlawanan," kata para pengunjuk rasa mengulang slogan dalam unjuk rasa antipemerintah yang melandan negeri itu Juni tahun lalu.

Undang-undang kontroversial itu mulai diberlakukan pada Rabu (19/2/2014), setelah ditandatangani Presiden Abdullah Gul meski mendapat tentangan sejumlah pihak.

Pengawasan internet ini memicu kecaman di dalam dan luar negeri. Sejumlah kalangan menilai pemerintah Turki berusaha untuk memberangus perbedaan pendapat sekaligus menghentikan munculnya bukti korupsi tingkat tinggi muncul di dunia maya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebelumnya, PM Recep Tayyip Erdogan kembali membantah pemerintahannya memberlakukan sensor internet di hadapan ribuan pendukungnya di kota Sivas.

"Kami tidak alergi internet, kami hanya melawan hal-hal imoral di internet," kata Erdogan dalam sebuah acara yang menandai dimulainya kampanye lokal partai politiknya.

"Kami hanya mengambil langkah-langkah untuk melindungi anak-anak kita dari racun," tambah Erdogan.

Undang-undang pengawasan internet ini diterbitkan di saat Erdogan tengah dalam tekanan terkait skandal suap terbesar negeri itu yang diungkap pada pertengahan Desember tahun lalu, yang menyeret para sekutu dekat Erdogan.

Erdogan menuding ulama Fethullah Gulen yang kini mengasingkan diri ke AS, yang memiliki banyak pendukung di kepolisian dan kejaksaan, sengaja menguak kasus ini menjelang pemilihan umum pada 30 Maret mendatang.

Reaksi pemerintahan Erdogan terhadap skandal ini sangat keras. Dia telah memecat ratusan polisi dan jaksa yang mengusut kasus tersebut serta mengusulkan undang-undang untuk mereformasi lembaga kehakiman.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.