Kompas.com - 19/02/2014, 20:30 WIB
Seorang pengunjuk rasa anti-pemerintah duduk di depan barisan polisi antihuru-hara Thailand di Bangkok. Polisi Thailand, Jumat (14/2/2014), mulai membongkar tenda-tenda yang digunakan para pengunjuk rasa. Manjunath Kiran / AFPSeorang pengunjuk rasa anti-pemerintah duduk di depan barisan polisi antihuru-hara Thailand di Bangkok. Polisi Thailand, Jumat (14/2/2014), mulai membongkar tenda-tenda yang digunakan para pengunjuk rasa.
EditorErvan Hardoko
BANGKOK, KOMPAS.com — Sebuah pengadilan di Thailand, Rabu (19/2/2014), melarang penggunaan kekerasan terhadap aksi unjuk rasa damai. Sementara di sisi lain, pengunjuk rasa bersumpah untuk terus berusaha melengserkan PM Yingluck Shinawatra.

Selain itu, pengadilan juga memutuskan sejumlah perintah yang dikeluarkan perdana menteri dan pusat komando keamanan khusus yang dibentuk berdasarkan dekrit darurat juga ilegal karena melanggar hak konstitusi pengunjuk rasa.

Sejumlah keputusan pemerintah yang dicabut pengadilan antara lain larangan berkumpul warga di atas lima orang, larangan memasuki gedung tertentu, dan larangan penggunaan jalan tertentu oleh pengunjuk rasa.

Namun, pengadilan juga menolak tuntutan pengunjuk rasa yang meminta status keadaan darurat di Bangkok dicabut. Pengadilan beralasan penetapan status darurat adalah wewenang pemerintah.

Pemerintahan PM Yingluck Shinawatra menetapkan keadaan darurat di Bangkok dan sekitarnya pada 21 Januari lalu setelah para pengunjuk rasa mengancam untuk melumpuhkan Bangkok dengan menduduki persimpangan-persimpangan penting dan sejumlah kantor pemerintah.

Polisi sebenarnya diperintahkan untuk tidak menggunakan kekerasan, tetapi bentrokan terjadi  pada Selasa (18/2/2014), saat polisi berusaha memindahkan para pengunjuk rasa.

Dalam bentrokan itu sedikitnya lima orang tewas dan 70 orang lainnya terluka. Demikian catatan dari layanan kesehatan Erawan. Selama tiga bulan terakhir kelompok oposisi melakukan unjuk rasa menuntut PM Yingluck Shinawatra mundur dari jabatannya.

Para pengunjuk rasa bahkan kini mengepung kantor sementara PM Yingluck dan bersumpah akan "memburu" sang perdana menteri ke mana saja hingga tuntutan mereka dipenuhi. Bahkan, para pengunjuk rasa juga bersumpah akan menyerang semua bisnis milik keluarga Shinawatra.



Sumber AP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X