Pengungsi Afrika Tengah Banjiri Negara-negara Tetangga

Kompas.com - 17/02/2014, 21:32 WIB
Anak-anak menjadi pengungsi di kota Bouca, Republik Afrika Tengah, akibat konflik bersenjata di wilayah itu. Juan Carlos Tomasi/MSF Anak-anak menjadi pengungsi di kota Bouca, Republik Afrika Tengah, akibat konflik bersenjata di wilayah itu.
EditorErvan Hardoko
BANGUI, KOMPAS.com - Konflik bersenjata di Republik Afrika Tengah (RAT) kini mulai dirasakan negara-negara tetangga RAT. Kini Kamerun, Chad, Kongo Brazzavile dan Republik Demokratik Kongo harus menampung antara 80.000-100.000 pengungsi RAT.

Di Kamerun, lebih dari 22.000 pengungsi telah menyeberangi perbatasan dalam beberapa pekan terakhir. Sekitar 9.000 pengungsi tiba dalam sepuluh hari pertama Februari. Mereka tiba dalam kondisi yang sangat menyedihkan setelah berjalan ratusan kilometer dan hanya mengonsumsi makanan seadanya.

Di sebelah selatan Chad, sekitar 35.000 pengungsi dengan mengendarai truk dan berjalan kaki tiba dalam beberapa pekan terakhir . Sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, yang menempuh perjalanan lebih dari 200 kilometer untuk lolos dari peperangan.

“Pengungsi yang berkecukupan tiba dengan truk, mereka membawa barang sekadarnya, sementara yang lainnya berjalan kaki,” ujar Anthony Thouvenin, koordinator darurat MSF di perbatasan Chad-Republik Afrika Tengah. “Mereka tidak memiliki apa-apa. Ada sekitar 50 anak yang tiba sendirian.”

Di Chad MSF sudah menyediakan layanan medis di Bitoye, sebuah kota kecil yang terletak 10 kilometer dari perbatasan RAT. Namun, jika penyakit yang diderita para pengungsi sangat berat maka mereka dirujuk ke RS Baibokun, 25 kilometer dari Bitoye.

Ribuan pengungsi juga tiba di Zongo, Republik Demokratik Kongo. Sebagian besar pengungsi berasal  dari ibu kota RAT, Bangui yang dilanda kekerasan. Menurut catatan resmi, sebanyak 60.000 pengungsi RAT kini berada di RD Kongo, terutama di provinsi Equator dan Orientale yang terletak di perbatasan kedua negara.


Sebagian dari jumlah pengungsi itu hidup di empat kamp pengungsi, dan sebagian lainnya ditampung di rumah penduduk setempat.

 
Sementara itu di Kongo-Brazzavile diperkirakan 10.000-20.000 orang pengungsi Mereka tinggal bersama penduduk setempat atau bersembunyi di semak-semak. Tim dari Medecin Sans Frontieres (MSF) sedang mengkaji situasi di wilayah tersebut untuk menentukan respons darurat yang dibutuhkan.

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Virus Corona Hantui Jepang, Catatkan Kasus Tertinggi Kedua Setelah China

Virus Corona Hantui Jepang, Catatkan Kasus Tertinggi Kedua Setelah China

Internasional
14 dari 300 Warga AS yang Dievakuasi dari Kapal Pesiar di Jepang Tertular Virus Corona

14 dari 300 Warga AS yang Dievakuasi dari Kapal Pesiar di Jepang Tertular Virus Corona

Internasional
Virus Corona Merebak, Kaisar Jepang Batalkan Perayaan Ulang Tahun

Virus Corona Merebak, Kaisar Jepang Batalkan Perayaan Ulang Tahun

Internasional
Kisah Orang Afrika Pertama yang Terpapar Virus Corona dan Sudah Sembuh

Kisah Orang Afrika Pertama yang Terpapar Virus Corona dan Sudah Sembuh

Internasional
40 Warga AS di Kapal Pesiar di Jepang Tertular Virus Corona

40 Warga AS di Kapal Pesiar di Jepang Tertular Virus Corona

Internasional
Kisah Pasien Singapura Sembuh dari Virus Corona: Rasanya Seperti Mau Mati

Kisah Pasien Singapura Sembuh dari Virus Corona: Rasanya Seperti Mau Mati

Internasional
Mengira Tertular Virus Corona, Mahasiswa Asing di Arab Saudi Bunuh Diri

Mengira Tertular Virus Corona, Mahasiswa Asing di Arab Saudi Bunuh Diri

Internasional
Perawat Ini Alami Diskriminasi Saat Merawat Pasien Virus Corona

Perawat Ini Alami Diskriminasi Saat Merawat Pasien Virus Corona

Internasional
Trump Minta Rusia untuk Berhenti Dukung Kekejaman Suriah

Trump Minta Rusia untuk Berhenti Dukung Kekejaman Suriah

Internasional
Korban Meninggal Virus Corona Per 17 Februari 2020 Capai 1.765 Orang

Korban Meninggal Virus Corona Per 17 Februari 2020 Capai 1.765 Orang

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] China Keluhkan Negara yang Bereaksi Berlebihan | Murid Australia Nyanyikan 'Abang Tukang Bakso' untuk Jokowi

[POPULER INTERNASIONAL] China Keluhkan Negara yang Bereaksi Berlebihan | Murid Australia Nyanyikan "Abang Tukang Bakso" untuk Jokowi

Internasional
Wabah Virus Corona dalam Angka Per 16 Februari 2020

Wabah Virus Corona dalam Angka Per 16 Februari 2020

Internasional
Taiwan Umumkan Kasus Kematian Pertama Virus Corona

Taiwan Umumkan Kasus Kematian Pertama Virus Corona

Internasional
22 Hari 'Hilang di Tengah Wabah Virus Corona, Kim Jong Un Kembali Muncul

22 Hari "Hilang di Tengah Wabah Virus Corona, Kim Jong Un Kembali Muncul

Internasional
WNI di Singapura Tak Terlalu Khawatir di Tengah Wabah Virus Corona

WNI di Singapura Tak Terlalu Khawatir di Tengah Wabah Virus Corona

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X