Banglades Vonis Mati Petinggi Partai Islam

Kompas.com - 30/01/2014, 16:01 WIB
Para pendukung partai oposisi Banglades yang memboikot pemilu, membakar surat dan kotak suara di salah sebuah TPS di kota Bogra, Minggu (5/1/2013). Tercatat 24 orang tewas dan ratusan TPS diserang atau dibakar dalam pemilu paling berdarah dalam sejarah Banglades ini. STRINGER / AFPPara pendukung partai oposisi Banglades yang memboikot pemilu, membakar surat dan kotak suara di salah sebuah TPS di kota Bogra, Minggu (5/1/2013). Tercatat 24 orang tewas dan ratusan TPS diserang atau dibakar dalam pemilu paling berdarah dalam sejarah Banglades ini.
EditorEgidius Patnistik
CHITTAGONG, KOMPAS.COM - Sebuah pengadilan Banglades, Kamis (30/1/2014), menjatuhkan hukuman mati kepada 14 orang, termasuk pemimpin partai Islam terbesar di negara itu, terkait penyelundupan besar senjata ilegal sepuluh tahun lalu.

Motiur Rahman Nizami (70 tahun), pemimpin partai Jamaat-e-Islami, dijatuhi hukuman gantung setelah dinyatakan bersalah atas kejatahan yang melibatkan 10 truk senjata yang kemudian disita polisi di pelabuhan Banglades. "Hakim menjatuhkan vonis untuk 14 orang, termasuk .... Motiur Rahman Nizami, dengan hukuman mati terkait dakwaan penyelundupan," kata jaksa Kamal Uddin Ahmed kepada kantor berita AFP dari kota pelabuhan Chittagong yang terletak di selatan negara itu.

"Kami puas dengan putusan tersebut. Ini merupakan kasus yang belum pernah terjadi sebelumnya dan semua mereka yang didakwa telah mendapat keadilan," kata Ahmed.

Para jaksa mengatakan Nizami, yang menjadi menteri industri pada waktu itu, membantu dalam membongkar senjata itu yang mencakup 4.930 senjata api canggih, 27.020 granat dan 840 peluncur roket pada April 2004.


Nizami, yang berada dalam tahanan sejak 2010, termasuk di antara 50 orang yang didakwa dengan kasus penyelundupan itu dan sejumlah pelanggaran lain terkait senjata yang dipindahkan melintasi perbatasan kepada kelompok pemberontak di India timur laut itu.

Mantan menteri perumahan Lutfozzaman Babar dan mantan kepala dua badan intelijen negara itu juga termasuk di antara 14 orang yang dijatuhi hukuman mati pada hari Kamis terkait kasus itu.

Seorang pemimpin Front Pembebasan Asom (ULFA), Paresh Baruah, juga dijatuhi hukuman mati secara in absentia terkait kasus itu. Senjata-senjata itu dimaksudkan untuk membantu perjuangan kelompok separatis itu. Baruah sendiri sudah lama berada dalam pelarian.

Hakim menegaskan dalam vonisnya "bahwa senjata dalam jumlah besar itu dimaksudkan untuk diselundupkan ke perbatasan buat ULFA," kata Ahmed.

Pengamanan sangat ketat di Chittagong menjelang putusan hakim yang lama ditunggu-tunggu setelah pengadilan yang berlangsung setahun. Pasukan polisi tambahan dan pasukan elite dari Batalyon Gerak Cepat dikerahkan di kawasan-kawasan utama sebagai tindakan pencegahan, di tengah kekhawatiran bahwa para aktivis partai Jamaat-e-Islami bisa turun ke jalan-jalan untuk memprotes putusan tersebut.

Nizami adalah menteri dalam pemerintahan Khaleda Zia dari Partai Nasionalis Banglades yang bersekutu dengan Jamaat. Kedua partai itu terlempar dari kekuasaan setelah menderita kekalahan besar dalam pemilu Desember 2008. Pemerintah yang dipimpin Liga Awami yang sekuler, yang mempertahankan kekuasaan setelah pemilu 5 Januari, telah melakukan penangkapan sejumlah tokoh utama dalam kasus itu begitu berkuasa.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Virus Corona Hantui Jepang, Catatkan Kasus Tertinggi Kedua Setelah China

Virus Corona Hantui Jepang, Catatkan Kasus Tertinggi Kedua Setelah China

Internasional
14 dari 300 Warga AS yang Dievakuasi dari Kapal Pesiar di Jepang Tertular Virus Corona

14 dari 300 Warga AS yang Dievakuasi dari Kapal Pesiar di Jepang Tertular Virus Corona

Internasional
Virus Corona Merebak, Kaisar Jepang Batalkan Perayaan Ulang Tahun

Virus Corona Merebak, Kaisar Jepang Batalkan Perayaan Ulang Tahun

Internasional
Kisah Orang Afrika Pertama yang Terpapar Virus Corona dan Sudah Sembuh

Kisah Orang Afrika Pertama yang Terpapar Virus Corona dan Sudah Sembuh

Internasional
40 Warga AS di Kapal Pesiar di Jepang Tertular Virus Corona

40 Warga AS di Kapal Pesiar di Jepang Tertular Virus Corona

Internasional
Kisah Pasien Singapura Sembuh dari Virus Corona: Rasanya Seperti Mau Mati

Kisah Pasien Singapura Sembuh dari Virus Corona: Rasanya Seperti Mau Mati

Internasional
Mengira Tertular Virus Corona, Mahasiswa Asing di Arab Saudi Bunuh Diri

Mengira Tertular Virus Corona, Mahasiswa Asing di Arab Saudi Bunuh Diri

Internasional
Perawat Ini Alami Diskriminasi Saat Merawat Pasien Virus Corona

Perawat Ini Alami Diskriminasi Saat Merawat Pasien Virus Corona

Internasional
Trump Minta Rusia untuk Berhenti Dukung Kekejaman Suriah

Trump Minta Rusia untuk Berhenti Dukung Kekejaman Suriah

Internasional
Korban Meninggal Virus Corona Per 17 Februari 2020 Capai 1.765 Orang

Korban Meninggal Virus Corona Per 17 Februari 2020 Capai 1.765 Orang

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] China Keluhkan Negara yang Bereaksi Berlebihan | Murid Australia Nyanyikan 'Abang Tukang Bakso' untuk Jokowi

[POPULER INTERNASIONAL] China Keluhkan Negara yang Bereaksi Berlebihan | Murid Australia Nyanyikan "Abang Tukang Bakso" untuk Jokowi

Internasional
Wabah Virus Corona dalam Angka Per 16 Februari 2020

Wabah Virus Corona dalam Angka Per 16 Februari 2020

Internasional
Taiwan Umumkan Kasus Kematian Pertama Virus Corona

Taiwan Umumkan Kasus Kematian Pertama Virus Corona

Internasional
22 Hari 'Hilang di Tengah Wabah Virus Corona, Kim Jong Un Kembali Muncul

22 Hari "Hilang di Tengah Wabah Virus Corona, Kim Jong Un Kembali Muncul

Internasional
WNI di Singapura Tak Terlalu Khawatir di Tengah Wabah Virus Corona

WNI di Singapura Tak Terlalu Khawatir di Tengah Wabah Virus Corona

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X