Kompas.com - 04/01/2014, 14:33 WIB
EditorHindra Liauw

BAGHDAD, KOMPAS.com — Sedikitnya 75 gerilyawan yang memiliki kaitan dengan Al Qaeda, termasuk seorang pemimpin senior mereka, tewas pada Jumat (3/1/2014) dalam bentrokan dengan pasukan keamanan Irak dan anggota suku lokal di Irak Barat. Demikian kata polisi.

Sebanyak 52 gerilyawan tewas di Ramadi, Ibu Kota Provinsi Anbar, dan 23 orang lagi tewas di daerah di dekat kota tersebut—yang berjarak sekitar 100 kilometer di sebelah barat Baghdad. Demikian kata satu sumber polisi kepada Xinhua.

Di antara korban tewas adalah Abdul Rahman al-Baghdadi, salah seorang pemimpin kelompok itu. Bentrokan berkecamuk terus pada Jumat di Ramadi dan Fallujah, sekitar 50 kilometer di sebelah barat Baghdad, saat pasukan Irak dan anggota suku memerangi anggota Al Qaeda yang telah menguasai beberapa bagian kedua kota itu.

Ketegangan meningkat di provinsi tersebut pada Senin (30/12/2013), ketika polisi Irak melucuti lokasi protes anti-pemerintah di luar Ramadi. Guna meredam keadaan dan menghindari memerangi anggota suku, Perdana Menteri Irak Nuri Al-Maliki memerintahkan militer untuk mundur dari kota besar di Anbar.

Pada Rabu (1/1/2014), bentrokan meletus di beberapa kota besar Anbar, termasuk dari Ramadi dan Fallujah, setelah gerilyawan Al Qaeda memasuki kota besar tersebut dan menyerang kantor polisi di kedua kota besar itu, termasuk markas polisi di Fallujah tepat setelah militer Irak mundur.

Pada Rabu malam, Al-Maliki mengatakan, ia mengubah keputusan sebelumnya untuk menarik militer dari kota bergolak di Provinsi Anbar. Sebaliknya, ia malah akan mengirim balabantuan ke provinsi tempat bentrokan berlangsung terus.

"Saya takkan menarik tentara dan akan mengirim tambahan personel" ke Provinsi Anbar sebagai reaksi atas permintaan dari warga dan pemerintah lokal. Demikian kata Al-Maliki sebagaimana dikutip stasiun televisi resmi Iraqiya.

Ketegangan sudah memuncak di pusat permukiman Sunni di Anbar, setelah pasukan keamanan Irak pada Sabtu (28/12/2013) menangkap pemimpin suku Sunni Ahmad Al-Alwani dan membunuh saudaranya. Al-Alwani juga adalah anggota parlemen di Parlemen Irak.

Pemeluk Sunni telah melancarkan protes selama satu tahun, dan menuduh pemerintah—yang dipimpin kaum Syiah, secara membabi-buta menangkap, menyiksa, dan bahkan membunuh putra mereka.

Al-Alwani adalah seorang tokoh utama yang bersuara lantang dalam protes anti-pemerintah. Sebagian anggota parlemen yang menentangnya telah menuntut pencabutan kekebalan atas Al-Alwani, tetapi tuntutan mereka ditampik oleh parlemen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.