Kompas.com - 22/12/2013, 13:30 WIB
|
EditorJosephus Primus
KOMPAS.com - Pesan pertemuan tingkat menteri Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Bali pada 3-6 Desember 2013 dalam soal pangan ada dua. Khususnya, untuk regional ASEAN dalam menghadapi Pasar Tunggal pada 2015 mendatang.

Catatan menunjukkan selain ketahanan pangan, WTO juga menegaskan soal kemandirian pangan. Hal yang sama juga diingatkan kembali dalam seminar internasional bertajuk "Avoiding The Middle Income Trap: Lesson Learn and Strategies for Indonesia to Grow Equitably and Sustainably" pada 11-13 Desember 2013 di Bali.

Secara khusus, penekanan soal kemandirian pangan terkait pula dengan penyediaan bibit tanaman pangan. Di Indonesia, kata Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika Agus Pakpahan, kemarin, ihwal bibit menjadi hal yang penting. Makanya, kemandirian perusahaan yang memproduksi bibit bahan pangan dan palawija juga menjadi hal yang utama.

Agus berbicara dalam diskusi bertajuk “Menatap Masa Depan Dunia Pertanian di Indonesia Menuju Kemandirian  Pangan Nasional,” yang diselenggarakan Public Trust Institute (PTI). Pembicara lain yang hadir adalah Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UI yang juga peneliti senior Public Trust Institute Eman Sulaeman Nasim.

Kedua pembicara mengemukakan contoh soal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen bibit tanaman pangan dan palawija PT Sang Hyang Seri (Persero). Sejak pertengahan OKtober 2013, perusahaan ini bukan lagi berstatus BUMN mandiri. Perusahaan ini menjadi anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero).

Terkait hal ini, keduanya merasa kalau perubahan status tersebut belum berlandaskan hukum kuat seperti peraturan pemerintah dan sejenisnya. Menurut keduanya, kondisi ini akan berakibat pada ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia. Ada semacam pembatasan gerak untuk kepeloporan bidang pembibitan tanaman pangan dan palawija. Padahal, pada sisi lainnya, memenangi persaingan dalam pasar bebas ASEAN 2015 adalah dengan kemampuan penuh dalam ketahanan dan kemandirian pangan.

Hal lain yang juga menjadi penting dalam kemandirian pangan adalah pembatasan subsidi pemerintah untuk sektor pertanian. Terkait dengan WTO tadi, Agus setuju kalau dalam waktu empat tahun ke depan, subsidi untuk pertanian di Indonesia tidak melebihi angka 10 persen. "Kemajuan pertanian di Tanah Air tidak harus dibangun dengan subsidi melainkan dengan pembangunan nasional, regional, dan sektoral yang saling memperkuat," demikian Agus Pakpahan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.