Kompas.com - 18/12/2013, 07:40 WIB
EditorEgidius Patnistik
KAIRO, KOMPAS.COM — Mantan Kepala Badan Intelijen Arab Saudi yang juga mantan Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat Pangeran Turki al-Faisal, hari Minggu lalu, dikabarkan bertemu dengan mantan Dubes Israel untuk AS Itamar Rabinovich dan anggota Knesset (parlemen Israel), Meir Sheetrit, di sela-sela sebuah seminar internasional di Monako.

Harian Al Quds al-Arabi edisi Selasa (17/12/2013) yang mengutip radio Israel memberitakan adanya pertemuan tersebut. Ini adalah pertemuan kedua antara pejabat tinggi Israel dan Arab Saudi.

Sebelumnya, harian Israel, The Jerusalem Post, juga memberitakan bahwa Kepala Intelijen Arab Saudi Pangeran Bandar bin Sultan bertemu dengan mitranya dari Israel di Geneva, Swiss, 27 November.

Dua pertemuan tokoh pemerintahan Arab Saudi dan Israel dalam kurun waktu kurang dari sebulan itu menunjukkan adanya pergeseran tatanan hubungan regional cukup signifikan saat ini. Demikian dilaporkan wartawan Kompas, Musthafa Abd Rahman, dari Kairo.

Menurut radio Israel, Pangeran Al-Faisal sempat terlibat dialog kecil dengan Rabinovich dan Sheetrit. Al-Faisal saat itu meminta Rabinovich dan Sheetrit membujuk Pemerintah Israel menerima proposal damai Arab Saudi tahun 2002 yang disampaikan Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Proposal damai Arab Saudi tersebut menawarkan kepada Israel agar menerima negara Palestina di atas tanah tahun 1967 dengan ibu kota Jerusalem Timur. Imbalannya, 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) akan mengakui negara Israel.

Al-Faisal meminta Israel menerima dahulu secara prinsip proposal damai tersebut. Sementara rincian kesepakatan final dan teknis pelaksanaannya di lapangan bisa dirundingkan kemudian.

Pangeran Al-Faisal juga menyampaikan keraguannya akan keberhasilan perundingan damai Israel-Palestina saat ini yang digagas pemerintah Presiden AS Barack Obama.

Pidato di parlemen

Sebaliknya, Sheetrit dilaporkan mengajak Pangeran Al-Faisal berkunjung ke Israel dan berpidato di depan forum Knesset, seperti dilakukan Presiden Mesir Anwar Sadat pada 1979. Namun, Al-Faisal menjawab, pidato di depan Knesset akan tidak efektif selama Israel masih menolak proposal damai Arab Saudi.

Al-Faisal, Rabinovich, dan Sheetrit kemudian membahas bersama soal peranan Iran yang makin besar di Timur Tengah. Al-Faisal meragukan keberhasilan kesepakatan Geneva tentang program nuklir Iran.

Ia juga meminta Dewan Kerja Sama Negara Arab Teluk (GCC) dilibatkan dalam perundingan mendatang terkait dengan isu nuklir Iran karena anggota GCC adalah tetangga terdekat Iran.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.