Kompas.com - 13/12/2013, 18:07 WIB
Seorang pria duduk berdoa di pusara keluarganya yang tewas akibat bencana Topan Haiyan yang menhantam wilayah tengah Filipina November lalu. Sejauh ini, pemerintah Filipina menyebutkan lebih dari 6.000 orang dinyatakan tewas akibat bencana tersebut. NOEL CELIS / AFPSeorang pria duduk berdoa di pusara keluarganya yang tewas akibat bencana Topan Haiyan yang menhantam wilayah tengah Filipina November lalu. Sejauh ini, pemerintah Filipina menyebutkan lebih dari 6.000 orang dinyatakan tewas akibat bencana tersebut.
EditorErvan Hardoko

MANILA, KOMPAS.com — Sekitar 30 jenazah ditemukan setiap hari di kawasan bencana Topan Haiyan, Filipina, lebih dari satu bulan setelah bencana dahsyat tersebut menghancurkan wilayah tengah negeri itu.

Para pejabat badan penanggulangan bencana Filipina mengatakan, jumlah korban meninggal akibat bencana itu tercatat lebih dari 6.000 orang, sementara 1.800 lainnya masih dinyatakan hilang.

Berdasarkan jumlah korban itu, Topan Haiyan—yang melanda November lalu—merupakan bencana terparah yang tercatat di Filipina.

Pemerintah memperkirakan upaya pembangunan kembali rumah untuk lebih dari 16 juta jiwa akan memakan waktu paling tidak tiga tahun.

"Regu pencari menemukan 27 jenazah di kota yang paling parah terkena bencana, Tacloban," kata juru bicara Badan Penanganan Bencana Filipina, Reynaldo Balido.

Balido mengatakan, identifikasi antara 20-30 mayat yang ditemukan setiap hari sangat sulit dan memakan waktu karena jenazah ditemukan dalam kondisi sudah membusuk. Temuan jenazah pada Kamis (12/12/2013) malam itu meningkatkan jumlah korban tewas menjadi 6.009 orang.

Sementara itu, Menteri Kesejahteraan Sosial Corazon Soliman mengatakan, rumah-rumah sementara dan penampungan darurat tengah dibangun. Korban gempa juga mendapatkan bantuan uang tunai sebagai imbalan kerja mereka untuk membantu mendistribusikan bantuan.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kami akan memberikan bahan-bahan untuk membangun rumah mereka, tetapi kami menekankan kepada pemerintah daerah bahwa perumahan baru harus dibangun paling tidak 40 meter dari garis batas air pasang di laut," kata Soliman.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X