Kompas.com - 13/12/2013, 10:26 WIB
EditorEgidius Patnistik
WASHINGTON, KOMPAS.COM — Pertumpahan darah sektarian di Suriah merupakan ancaman bagi keamanan regional sehingga kemenangan rezim Bashar al Assad bisa merupakan hasil terbaik yang bisa diharapkan. Demikian kata seorang mantan Kepala CIA, Kamis (12/12/2013).

Washington telah mengecam perilaku Assad terkait konflik itu. AS bahkan sempat mengancam untuk melancarkan serangan udara setelah Assad dituduh sengaja menyerang warga sipil dengan senjata kimia. AS juga telah menuntut Assad mundur dari kekuasaan. Tak hanya itu, AS menyediakan jutaan dollar bantuan "bukan senjata" kepada beberapa kelompok pemberontak yang melawan pemerintahan Assad.

Namun, Michael Hayden, jenderal pensiunan Angkatan Udara AS yang hingga tahun 2009 menjabat sebagai Kepala CIA (Central Intelligence Agency), mengatakan, kemenangan pemberontak bukan salah satu dari tiga kemungkinan yang dia ramalkan dari konflik itu. "Opsi ketiga adalah Assad menang," kata Hayden pada konferensi tahunan Jamestown Foundation tentang teror. "Dan saya harus memberi tahu Anda saat ini, betapa pun buruk kedengarannya, saya cenderung ke opsi tiga sebagai yang terbaik dari tiga kemungkinan yang semuanya sangat jelek," katanya.

Kemungkinan pertama, menurut dia, adalah konflik yang berkepanjangan antara faksi-faksi Sunni dan Syiah yang lebih ekstrem. Kelompok-kelompok pemberontak didominasi oleh Muslim Sunni, sementara Assad umumnya didukung kaum Alawite Suriah, Syiah, dan minoritas Kristen.

Hasil kedua, yang dianggap Hayden yang paling mungkin, adalah "pembubaran Suriah". Itu berarti akhir dari sebuah negara berdasarkan batas-batas yang ditentukan dalam perjanjian tahun 1916 antara Perancis dan Inggris. "Itu berarti akhir dari (Perjanjian) Sykes-Picot, berarti pembubaran negara yang dibentuk setelah Perang Dunia I," katanya.

Diplomat Inggris, Mark Sykes, dan rekannya dari Perancis, Francois Georges Picot, membagi Timur Tengah dalam sejumlah zona pengaruh yang kemudian berfungsi sebagai perbatasan negara-negara Arab yang independen. Sebuah rincian dalam penetapan abad lalu itu bisa menimbulkan kekacauan di Lebanon, Yordania, dan Irak. Demikian kata Hayden memperingatkan.

"Saya sangat takut soal pembubaran negara itu. Pembubaran de facto perjanjian Sykes-Picot," kata Hayden. "Dan sekarang kita memiliki sebuah ruang baru tanpa pemerintahan, yang berada di persimpangan peradaban. Kisah dominan yang terjadi di Suriah adalah pengambilalihan oleh kaum fundamentalis Sunni bagian penting dari geografi Timur Tengah."

Pertempuran meletus di Suriah pada awal 2011 ketika Assad meluncurkan tindakan keras terhadap protes pro-demokrasi dan sejak itu berkembang menjadi sebuah perang sipil besar-besaran yang telah merenggut sekitar 126.000 nyawa.

Assad, yang didukung Iran dan milisi Hizbullah Lebanon, terkunci dalam pertempuran dengan berbagai faksi kelompok pemberontak Sunni yang semakin didominasi oleh kelompok-kelompok jihad garis keras.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.