Artefak Indian Amerika yang Dilelang Akan Dikembalikan ke Pemiliknya

Kompas.com - 11/12/2013, 22:00 WIB
JOEL SAGET / AFP Inilah salah satu artefak suku Indian Apache yang akan dilelang di Paris, Perancis, meski ditentang pemerintah Amerika Serikat.
PARIS, KOMPAS.com - Sebuah yayasan  nirlaba AS, Rabu (11/12/2013), mengaku sebagai pembeli artefak-artefak Indian Amerika yang dilelang di Paris awal pekan ini di tengah berbagai kontroversi.

Yayasan Annenberg mengatakan telah membeli 21 topeng tradisional Hopi, yang biasa digunakan dalam upacara-upacara keagamaan tradisional- dan tiga artefak suku Apache San Carlos dengan harga 530.000 dolar AS.

"Tujuan pembelian itu adalah murni untuk mengembalikan artefak-artefak itu ke pemilik sahnya," demikian pernyataan Yayasan Annenberg.

Sebenarnya, berbagai lembaga termasuk Kedutaan Besar AS di Paris telah mencoba untuk menggagalkan lelang yang digelar pada Senin (9/12/2013) itu.

Lembaga advokasi Survival International yang mewakili suku Hopi, juga berupaya agar lelang itu batal digelar. Namun, tuntutan mereka gagal karena pengadilan Perancis menilai penjualan itu sah menurut hukum Perancis.

"Harapan kami adalah tindakan ini akan menjadi contoh bahwa benda-benda budaya dan keagamaan tertentu hanya bisa dirawat oleh mereka yang memiliki pengetahuan dan tanggung jawab yang memadai. Benda-benda ini tak bisa begitu saja dijual," kata Sam Tenakhongva, seorang pemimpin budaya suku Hopi.

Lelang itu sebenarnya termasuk sejumlah benda seni suku asli Amerika itu, namun kontroversi terpusat pada 27 benda yang dianggap sakral oleh suku Hopi.

Pierre Servan-Schreiber, kuasa hukum suku Hopi, membeli salah satu topeng itu dengan harga 13.000 euro dan akan mengembalikan topeng itu ke suku Hopi. Namun, nasib dua topeng lainnya belum jelas.

Semua 27 artefak itu terjual dengan harga 550.000 euro, termasuk sebuah helem kulit dengan dua sayap burung gagak besar di kedua sisi helm itu.

Helm kulit itu terjual 125.000 euro dan belum dapat dipastikan apakah helm itu termasuk dalam artefak yang dibeli Yayasan Annenberg.

Sejak 1990, pemerintah Amerika Serikat melarang penjualan artefak suci suku Indian di wilayah AS. Namun, aturan itu tidak bisa diberlakukan terhadap penjualan di luar negeri.

 



EditorErvan Hardoko
Sumber

Terkini Lainnya

Konsolidasi Prabowo dan Relawan Berlangsung Tertutup

Konsolidasi Prabowo dan Relawan Berlangsung Tertutup

Nasional
Gubernur Janjikan Santunan Bagi Petugas Pemilu yang Meninggal di Jawa Tengah

Gubernur Janjikan Santunan Bagi Petugas Pemilu yang Meninggal di Jawa Tengah

Regional
Bertemu Jokowi, Ketua MPR Keluhkan Durasi Pemilu yang Terlalu Lama

Bertemu Jokowi, Ketua MPR Keluhkan Durasi Pemilu yang Terlalu Lama

Nasional
M Taufik Yakin Gerindra Ungguli PKS di DKI Jakarta

M Taufik Yakin Gerindra Ungguli PKS di DKI Jakarta

Megapolitan
Meninggal 2018, Caleg PKB Asal Jember ini Raih Suara Terbanyak

Meninggal 2018, Caleg PKB Asal Jember ini Raih Suara Terbanyak

Regional
Terbakarnya Logistik Pasca-Pemilu, Sebagian Besar Ulah Caleg Kecewa

Terbakarnya Logistik Pasca-Pemilu, Sebagian Besar Ulah Caleg Kecewa

Regional
Polisi Gagalkan Penjualan 148 Penyu yang Akan Digunakan untuk Kegiatan Keagamaan

Polisi Gagalkan Penjualan 148 Penyu yang Akan Digunakan untuk Kegiatan Keagamaan

Regional
Ini Penyebab Kecelakaan Minibus Berpenumpang Anak TK yang Tewaskan Satu Siswa

Ini Penyebab Kecelakaan Minibus Berpenumpang Anak TK yang Tewaskan Satu Siswa

Regional
Jokowi-Ma'ruf Unggul di TPS Pemungutan Suara Ulang Gresik

Jokowi-Ma'ruf Unggul di TPS Pemungutan Suara Ulang Gresik

Regional
Hujan Sejak Pagi, 17 Titik di Jakarta Dilanda Banjir

Hujan Sejak Pagi, 17 Titik di Jakarta Dilanda Banjir

Megapolitan
Data Kawalpemilu 36,83 Persen: Prabowo-Sandi Unggul di Bekasi

Data Kawalpemilu 36,83 Persen: Prabowo-Sandi Unggul di Bekasi

Megapolitan
Dedi Mulyadi Siap Jadi Bapak Angkat untuk Anak-anak Panitia Pemilu yang Gugur

Dedi Mulyadi Siap Jadi Bapak Angkat untuk Anak-anak Panitia Pemilu yang Gugur

Regional
Polisi Investigasi Akun Penyebar Video Pembakaran Surat dan Kotak Suara di Papua

Polisi Investigasi Akun Penyebar Video Pembakaran Surat dan Kotak Suara di Papua

Nasional
Bawaslu: PPLN Sydney Harus Laksanakan Pemungutan Suara Lanjutan Jika Tak Ingin Dipidana

Bawaslu: PPLN Sydney Harus Laksanakan Pemungutan Suara Lanjutan Jika Tak Ingin Dipidana

Nasional
Pelaku Bom Bunuh Diri Sri Lanka Pernah Belajar di Inggris dan Australia

Pelaku Bom Bunuh Diri Sri Lanka Pernah Belajar di Inggris dan Australia

Internasional

Close Ads X