Kompas.com - 09/12/2013, 12:26 WIB
Lebih dari 100.000 warga Thailand memadati jalanan ibu kota Bangkok menentang pemerintahan PM Yingluck Shinawatra. Akibat unjuk rasa ini pemerintah menerapkan undang-undang keamanan darurat. PORNCHAI KITTIWONGSAKUL / AFPLebih dari 100.000 warga Thailand memadati jalanan ibu kota Bangkok menentang pemerintahan PM Yingluck Shinawatra. Akibat unjuk rasa ini pemerintah menerapkan undang-undang keamanan darurat.
EditorEgidius Patnistik
BANGKOK, KOMPAS.COM — Para pemimpin unjuk rasa anti-pemerintah Thailand terus menekan pemerintah dengan menggelar demonstrasi besar pada Senin (9/12/2013) ini. Mereka berusaha membentuk sebuah dewan, tanpa melalui pemilu, guna memerintah negara itu. Mereka mengabaikan langkah Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra yang telah membubarkan parlemen dan menyerukan pemilihan sela.

Para pengunjuk rasa telah berada di jalan-jalan ibu kota negara itu selama berminggu terakhir. Mereka bentrok dengan polisi dan bersumpah untuk menggulingkan Yingluck serta membasmi pengaruh saudaranya yang sedang mengasingkan diri, yaitu mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra. Bentrokan mereda pekan lalu saat bangsa itu merayakan ulang tahun raja Thailand yang sangat dihormati. Namun, permusuhan politik berlanjut lagi setelah perayaan itu berakhir.

Demonstrasi tersebut merupakan letusan terbaru dalam hampir satu dekade persaingan antara tentara yang bersatu dan kaum mapan yang berbasis di Bangkok dan mereka yang mendukung Thaksin, mantan konglomerat telekomunikasi yang memenangkan dukungan besar di pedesaan karena kebijakan pro poor.

"Pada tahap ini, ketika ada banyak orang dari berbagai kelompok menentang pemerintah, cara terbaik adalah memberikan kembali kekuasaan kepada rakyat Thailand dan menyelenggarakan pemilu. Jadi rakyat Thailand akan memutuskan," kata Yingluck dalam pidato televisi saat ribuan pengunjuk rasa kembali berdemonstrasi di Bangkok.

Pemimpin gerakan anti-pemerintah, Suthep Thaugsuban, mengatakan, dia tidak akan menghentikan demonstrasi dan akan terus berpawai ke kantor Yingluck di Government House. "Hari ini, kami akan pawai ke Government House. Kami belum mencapai tujuan kami. Pembubaran parlemen bukanlah tujuan kami," kata Suthep, mantan wakil perdana menteri di bawah pemerintah yang didukung militer sebelumnya.

Polisi memperkirakan, sebanyak 50.000 orang bergabung dalam protes di lokasi yang berbeda di Bangkok.

Partai Puea Thai pimpinan Yingluck memenangkan pemilu terakhir tahun 2011 yang mendapat dukungan luas di utara dan timur laut negara itu, yang merupakan daerah termiskin di Thailand. Sementara itu, Partai Demokrat belum pernah memenangi pemilihan dalam lebih dari dua dekade.

Suthep, yang menyadari bahwa Yingluck kemungkinan akan memenangkan pemilu jika kembali digelar, mendesak untuk membentuk sebuah "dewan rakyat" yang terdiri dari "orang-orang baik" untuk menggantikan pemerintah.

Yingluck menolak gagasan itu yang dinilainya inkonstitusional dan tidak demokratis.



Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X