Kompas.com - 06/12/2013, 15:52 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani
DUNKERQUE, KOMPAS.com — Perancis berada dalam dilema soal pekerja asing di negara itu. Pada satu sisi, bayaran murah untuk pekerja asing mendapat payung hukum dari aturan Uni Eropa, tetapi di dalam negeri kehadiran pekerja murah dari luar negeri merupakan tamparan untuk pemerintah sosialis tersebut.

Di ujung utara Perancis, di Pantai Channel, industri terbesar kedua di sana ramai dengan beragam peralatan berat, seperti crane, dengan lebih dari 1.000 pekerja. Mayoritas pekerja itu berasal dari luar negeri, dengan bayaran murah sesuai kontrak di bawah hukum Uni Eropa.

Kehadiran pekerja asing tersebut di dalam negeri Perancis mengundang kemarahan politik. Isu pekerja asing ini mempermalukan pemerintahan sosialis dan menjadi amunisi bagi kubu sayap kanan dari Front Nasionalis.

Masalah ini menjadi sensitif karena mencuat menjelang pemilihan parlemen Eropa dan menjadi agenda utama dalam pertemuan para menteri tenaga kerja Uni Eropa yang mulai berlangsung pada Senin (9/12/2013). Hasil pertemuan tersebut akan menjadi bahan untuk pertemuan puncak pemimpin Uni Eropa pada 19 sampai 20 Desember 2013.

Terlebih lagi, pada saat yang sama, Perancis juga sedang bermasalah dengan lapangan kerja untuk warga negaranya di tengah perekonomian Eropa dan global yang tak kunjung pulih. Salah satu industri yang terpukul oleh perkembangan ekonomi ini adalah proyek terminal gas alam cair (LNG). Proyek yang diharapkan dapat menyerap banyak tenaga kerja tersebut terpukul oleh penurunan pertumbuhan industri, yang antara lain ditandai dengan penutupan kilang Total.

Sementara banyak lokasi konstruksi di seantero Perancis, proyek yang dikendalikan oleh  perusahaan negara EDF, lebih banyak mempekerjakan orang asing. Pekerja dari luar negeri direkrut melalui subkontraktor untuk menghindari biaya ketenagakerjaan yang mahal di Perancis.

Praktik tersebut legal di bawah kesepakatan yang melibatkan 1.996 perusahaan Eropa. Namun, asosiasi serikat pekerja Perancis menilai aturan Uni Eropa itu banyak disalahgunakan dan pekerja lokal berada pada posisi yang dirugikan.

"Daerah ini sangat membutuhkan pekerjaan, tetapi kami menghadapi persaingan yang benar-benar tidak adil dan kami diperas," kata David Sans, dari serikat lokal CGT, sebuah perusahaan listrik. Perusahaan ini baru saja kalah tender proyek LNG karena kalah dari perusahaan kompetitor dari Italia yang mempekerjakan tenaga kerja Portugis dengan bayaran separuh pekerja Perancis.

Fenomena ini semakin meningkat seiring desakan kebutuhan perusahaan bersaing memenangkan tender secara kompetitif. Secara bersamaan, hitungan bisnis tersebut meningkatkan kebencian di kalangan pekerja lokal, pada saat angka pengangguran di Perancis mendekati angka tertinggi dalam sejarah.

Setiap tahun, lebih dari satu juta pekerja dikirim melintasi perbatasan Uni Eropa untuk bekerja, terutama di pekerjaan konstruksi, pertanian, perhotelan, dan transportasi, berdasarkan data Komisi Eropa.

Data Pemerintah Perancis mengatakan, pekerja asing, terutama berasal dari Polandia, Portugal, dan Romania, naik 23 persen pada tahun ini, mencapai lebih dari 200.000 orang. Angka itu, menurut para pejabat, belum termasuk para pekerja asing yang masuk secara ilegal.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.