Kompas.com - 02/12/2013, 19:30 WIB
EditorEgidius Patnistik
ROMA, KOMPAS.COM — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bertemu dengan Paus Fransiskus, Senin (2/12/2013). Pertemuan itu merupakan bagian dari kunjungan Netanyahu ke Roma di mana ia menegaskan kembali penolakan terhadap kesepakatan nuklir Iran.

Netanyahu untuk pertama kalinya diterima dalam sebuah audiensi singkat dengan Paus, yang dijadwalkan akan melakukan perjalanan ke Timur Tengah tahun depan. Fransiskus dan Netanyahu bertemu selama 25 menit. Mereka melakukan pembicaraan tertutup dengan melibatkan seorang penerjemah.

PM Israel itu memberi Paus terjemahan bahasa Spanyol dari buku tulisan ayahnya, Benzion Netanyahu, yang berjudul "The Origins of the Inquisition in Fifteenth Century Spain".

Netanyahu dan Fransiskus diharapkan untuk membahas negosiasi antara Israel dan Palestina, yang dimulai kembali pada Juli setelah absen tiga tahun. Namun, proses itu telah goyah akibat rencana Israel membangun permukiman baru.

Sumber-sumber Israel mengatakan, kunjungan Fransiskus ke Timur Tengah bisa berlangsung sebelum Presiden Israel Shimon Peres berakhir masa jabatannya pada Juli. Meskipun belum ada tanggal resmi yang telah dibuat, sumber-sumber di kedua sisi mengatakan, kemungkinan kunjungan itu akan berlangsung pada 25-26 Mei.

Israel dan Vatikan pertama kali membangun hubungan diplomatik penuh tahun 1993, tetapi sebelumnya telah bertahun-tahun terlibat dalam negosiasi diplomatik yang bergejolak terkait hak milik sejumlah properti dan pembebasan pajak bagi Gereja Katolik, yang belum sepenuhnya terselesaikan hingga kini.

Pada Senin sore Netanyahu dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan PM Italia, Enrico Letta, dan mengadakan konferensi pers bersama pada sekitar pukul 14.00 GMT (atau 21.00 WIB).

Hari Minggu kemarin, Perdana Menteri Israel itu menghadiri upacara pasang lilin di sinagoga utama di Roma. Di situ dia menyatakan kembali penentangannya terhadap kesepakatan nuklir internasional dengan musuh bebuyutannya, Iran. "Sangat mudah untuk menerima sebuah tepukan di bahu dari masyarakat internasional, untuk menundukkan kepala sesorang," kata Netanyahu. "Saya ingin menghilangkan segala ilusi. Iran bercita-cita untuk mendapatkan sebuah bom atom. Dengan demikian, itu akan mengancam tidak hanya Israel tetapi juga Italia, Eropa, dan seluruh dunia," katanya seperti dikutip di situsnya.

"Tidak boleh ada tersesat setelah serangan senyuman. Saat ini ada rezim di Iran yang mendukung terorisme, memfasilitasi pembantaian warga sipil di Suriah dan tak henti-hentinya mempersenjatai kaki tangannya," katanya.

Dalam kesepakatan di Geneva bulan lalu, Iran setuju untuk mengekang program nuklirnya selama enam bulan ke depan. Sebagai imbalan, sejumlah sanksi untuk negara itu akan diperlongar. Namun, Israel mengecam kesepakatan itu sebagai "kesalahan bersejarah" dan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, dijadwalkan pergi ke Israel pekan ini untuk mencoba meredakan ketegangan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.