Kesepakatan Buruk dengan Iran Masih Lebih Baik ketimbang Tak Ada Kesepakatan

Kompas.com - 25/11/2013, 11:52 WIB
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton bersama Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam perundingan soal nuklir Iran di Geneva, Swiss. FABRICE COFFRINI / AFPKepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton bersama Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam perundingan soal nuklir Iran di Geneva, Swiss.
EditorEgidius Patnistik
LONDON, KOMPAS.COM - Kesepakatan bersejarah untuk mengekang program nuklir Iran harus diberikan kesempatan untuk bekerja tetapi niat Teheran harus dipantau dengan skeptisisme mendalam, kata sejumlah koran Inggris, Senin (25/11).

Daily Telegraph berpendapat, kesepakatan itu merupakan opsi terbaik yang tersedia di atas meja tetapi dunia perlu sangat berhati-hati. "Mengingat bahwa ambisi nuklir Iran tidak punya tujuan rasional selain untuk menyediakan opsi bagi para pemimpin kejamnya untuk membangun senjata pamungkas, kita berhak untuk mendekati kesepakatan ini dengan skeptisisme yang mendalam dan hati-hati," kata editorial koran itu.

"Namun menolak kesepakatan tersebut akan berakibat program nuklir Iran diperluas dari bulan ke bulan, sampai saat mengerikan tiba ketika Amerika hanya punya sedikit pilihan selain berperang," tambah koran itu. "Dengan segala pertimbangan, kita akan lebih aman dengan perjanjian pragmatis ini ketimbang tidak ada perjanjian. Namun Barat tidak boleh lengah untuk mengawasinya."

Iran setuju untuk membatasi program nuklirnya selama enam bulan ke depan. Sebagai imbalannya sanksi untuk negara itu dilonggarkan. Itu kesepakatan awal yang dimaksudkan untuk meletakkan dasar bagi perjanjian komprehensif pada akhir tahun ini.

Harian bisnis Financial Times memuji pakta tersebut sebagai "momen bersejarah" dan mengatakan bahwa sebuah solusi damai layak diperjuangkan. "Diplomasi telah menghasilkan sejumlah terobosan," kata editorial koran itu. "Dunia harus memberikan (kesepakatan) yang satu ini kesempatan."

Koran berhaluan kiri Guardian mengatakan, perjanjian itu "bisa dibilang merupakan pencapaian kebijakan luar negeri terbesar dari kepresidenan Barack Obama dan perjanjian yang paling signifikan antara AS dan Iran sejak revolusi Iran. Jika berhasil, hal itu punya kekuatan untuk membentuk kembali Timur Tengah," kata editorial Guardian.

Koran itu juga memuji Catherine Ashton, perwakilan tinggi Uni Eropa untuk urusan luar negeri yang sering difitnah, karena melakukan "kudeta diplomatik terbesar dalam sejarah kebijakan luar negeri Uni Eropa." "Hari Minggu, dia berada di posisi yang tidak biasa karena dihujani pujian. Dia harus tersenyum," kata koran itu.

Namun, Times yang berhaluan moderat menyebut kesepakatan itu sebagai penuh bahaya dan "sangat murah hati" terhadap Iran. "Catatan perilaku masa lalu menunjukkan Tehran akan mengenyampingkan konsesi itu dan kemudian melanjutkan seperti sebelumnya," kata koran  itu. "Hal itu tidak cukup baik."Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.