Kompas.com - 14/11/2013, 07:38 WIB
|
EditorEgidius Patnistik
Kemungkinan tercapai kesepakatan antara Iran dan negara 5+1 (AS, Rusia, Inggris, Perancis, China) plus Jerman terkait program nuklir Iran kini berbuntut tegangnya hubungan AS-Israel, khususnya hubungan pribadi antara PM Israel Benjamin Netanyahu dan Menlu AS John Kerry.

Media massa utama Israel seperti harian Maariv, Yedioth Ahronoth, dan Haaretz sejak Senin hingga Selasa (11-12/11) menurunkan berita dengan judul besar tentang polemik mulut antara Netanyahu dan Kerry, gara-gara isu nuklir Iran.

Pemerintah PM Netanyahu yang sebagian besar anggotanya berasal dari kubu garis keras Israel saat ini cenderung menuduh pemerintah Presiden Barack Obama mendukung tercapainya kesepakatan antara Iran dan negara 5+1 soal nuklir.

Kubu garis keras itu juga menuduh Obama berupaya melakukan pendekatan dengan Iran pasca-terpilihnya Presiden Hassan Rouhani yang berasal dari kubu reformis pada pemilu presiden bulan Juni lalu.

Keretakan hubungan Netanyahu-Kerry itu sudah dimulai ketika Kerry tiba-tiba memotong lawatannya di Timur Tengah dan mendadak berangkat ke Geneva pada Jumat lalu untuk ikut bergabung dalam forum perundingan soal nuklir Iran.

Netanyahu yang bertemu kembali dengan Kerry di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, sebelum Kerry terbang menuju Geneva pada Jumat lalu, menolak menyalami Kerry.

PM Netanyahu dan kubu pendukungnya semakin panas setelah Kerry ketika berada di Abu Dhabi hari Senin lalu menyebut, sikap PM Netanyahu terlalu dini menentang kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Iran dan negara 5+1 soal isu nuklir.

Kubu Netanyahu sebaliknya menyebut, jika PM Netanyahu mengkritik setelah tercapainya kesepakatan Iran dan negara 5+1, justru sudah terlambat dan tidak ada gunanya lagi.

Mereka mengatakan, Netanyahu dipilih lagi sebagai PM Israel justru misi utamanya untuk menghentikan program nuklir Iran yang mengarah pada pembuatan senjata nuklir.

Namun, mantan Menteri Pertahanan Israel Shaul Mofaz malah mengkritik polemik terbuka antara Netanyahu dan Kerry yang dapat memperburuk hubungan AS-Israel. Menurut dia, cara ini sangat berbahaya dan tidak menguntungkan Israel.

Mantan Konsul Israel untuk AS Alon Pinkas juga mengatakan, Netanyahu dan pendukungnya kini harus membayar harga berkonfrontasi yang tak perlu dengan AS selama empat tahun terakhir ini.

Sementara itu, harian Israel, Haaretz, mengutip laporan korespondennya di Washington DC memberitakan, Pemerintah AS sangat terkejut terhadap sikap Netanyahu yang menyulut ketegangan hubungan dengan AS, serta menghasut Partai Republik dan organisasi-organisasi Yahudi di AS melawan Obama. Washington menyebut, PM Netanyahu menggunakan taktik bumi hangus melawan Obama saat ini.

Dalam upaya meredakan ketegangan hubungan AS-Israel, Presiden Israel Shimon Peres yang berasal dari kubu moderat berusaha menenangkannya. Menurut Peres, gangguan hubungan AS-Israel saat ini belum mencapai tingkat krisis hubungan, tetapi lebih berupa perbedaan taktik saja dalam menghadapi isu nuklir Iran.

Dubes AS untuk Israel Daniel Shapiro kini juga ikut berusaha menjembatani perbedaan pendapat AS-Israel itu. Shapiro menegaskan, AS dan Israel hanya bisa berbeda pendapat dalam urusan kecil atau terkait dengan taktis saja, tetapi tidak pernah berbeda pendapat dalam sepanjang sejarahnya terkait isu strategis, seperti isu nuklir Iran.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.