Kompas.com - 24/10/2013, 20:22 WIB
EditorErvan Hardoko

CANBERRA, KOMPAS.com - Departemen Pertahanan Australia, Kamis (24/10/2013) membantah klaim yang menyebut helikopter Australia digunakan oleh militer Indonesia untuk membunuh warga sipil Papua pada akhir 1970-an.

Bantahan ini menanggapi laporan hasil investigasi selama setahun oleh Komisi HAM Asia (AHRC) mengenai peristiwa pembunuhan, pemerkosaan dan penyiksaan terhadap 4 ribu warga sipil Papua lebih dari 45 tahun yang lalu.

Laporan itu menuding Australia menyuplai 2 helikopter yang digunakan dalam operasi militer di Papua tersebut. Departemen Pertahanan menyatakan arsip yang dimiliki mereka mencatat cerita yang berbeda.

Dalam pernyataannya yang diberikan kepada ABC, Departemen Pertahanan menyatakan :

"Dari tahun 1976 sampai 1981,  unit pertahanan  terlibat dalam  Operasi Cenderawasih,  untuk  melakukan survei dan memetakan Irian Jaya".

"Helikopter  Iroquois, Caribou, Canberra  serta Hercules C-130 Hercules Australia turut digunakan untuk melakukan operasi itu di Irian Jaya."

"Markas besar operasi tersebut di Bandara Udara Mokmer di Pulau Biak."

Pernyataan tersebut menyebutkan pertanyaan lanjutan terkait isu ini harus diajukan melalui permohonan atas kebebasan informasi.

Juru bicara Departemen Pertahanan Australia bidang luar negeri dan perdagangan mengatakan  mereka tidak dalam posisi untuk memberikan komentar  mengenai situasi di Papua pada periode 35 tahun yang lalu.

"Kebijakan pemerintah Australia saat ini terhadap Papua sudah jelas: kita mengutuk semua kejahatan terhadap warga sipil maupun kejahatan yang dilancarkan kepada personil keamanan. Situasi HAM saat ini di Propinsi Papua tidak seperti yang digambarkan didalam laporan AHRC.”

"Permohonan apapun untuk mengakses catatan Departemen Pertahanan selama periode yang dimaksudkan harus ditujukan kepada Lembaga Arsip Nasional  sesuai  ketentuan arsip tahun 1983.”

Sebelumnya, hasil penelitian sebuah lembaga HAM yang bermarkas di Hongkong Asian Human Right Commission (AHRC) menyebut AS dan Australia mendukung militer Indonesia melakukan pembantaian di Papua pada akhir 1970-an.

Bentuk dukungan itu berupa bantuan sejumlah helikopter dari Australia. Sementara Amerika Serikat memberikan bantuan berupa pesawat-pesawat tempur.

Laporan ini berjudul "The Neglected Genocide - Human Rights abuses against Papuans in the Central Highlands, 1977 - 1978" (Pembantaian yang Terabaikan- Pelanggaran HAM terhadap warga Papua di Daerah Pedalaman Tengah, 1977-1978).

Laporan tersebut mencatat kekerasan yang terjadi saat Indonesia meluncurkan beberapa operasi militer di sekitar Wamena dalam rangka membendung usaha mencapai kemerdekaan Papua setelah pemilihan umum tahun 1977. 

ARHC mengadakan kunjungan lapangan, mewawancara sejumlah saksi, dan memeriksa catatan sejarah. Badan ini telah mengumpulkan 4.416 nama yang dilaporkan dibunuh oleh militer Indonesia dan menyatakan bahwa jumlah korban tewas akibat penyiksaan, penyakit dan kelaparan berbuntut kekerasan tersebut bisa jadi lebih dari 10.000 orang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.